*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Burung-burung
dari Papua sangat indah seperti Cendrawasih dan Kasuari. Oleh karena itu sangat
diminati di manca negara atau pasar internasional, bahkan itu sudah terjadi
sejak lama di era Portugis. Cendrawasih dan Kasuari menjadi sangat terkenal di
Eropa, karena itu para pedagang-pedagang Eropa juga mulai terlibat perburuan
burung-burung indah tersebut. Lalu akhirnya para peneliti flora dan fauna juga datang
menyambangi Papua.

salah satu mata dagangan dari Papua. Burung-burung dari Papua tidak hanya
diekspor dalam keadaan hidup juga dalam bentuk spesimen (karena warna
bulunyalah yang menjadi daya tariknya). Selain burung, produk yang
diperdagangkan dari Papua banyak macamnya seperti tripang, pinang, kulit kayu
putih dan mutiara. Cendrawasih dan Kasuari terbilang burung endemik Papua.
Burung endemik di Papua lainnya antara lain adalah burung Nuri Sayap Hitam,
Sikatan Biak, Robin Salju, Maleo Waigeo, Maleo Kamur, Perling Papua, Kehicap Biak
dan Bondol Arfak.
Bagaimana
sejarah (perdagangan) burung di Papua? Tentu saja belum terinforasikan dengan baik dan
karena itu tidak ada yang pernah menulisnya. Lantas apa pentingnya perdagangan
burung di Papua? Seperti disebut di atas, burung-burung asal
Papua sangat khas, sangat cantik seperti cendrawasih dan kasuari dan setiap
orang membicarakannya, namun tidak seorang pun mengenal sejarahnya. Hal itulah
mengapa sejarahnya perlu ditulis. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Perdagangan Burung Tempo Doeloe: Cendrawasih dan Kasuari
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Burung Endemik Papua
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






