*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Bagaimana
sejarah Pulau Flores? Sudah barang tentu
ada yang telah menulisnya. Lantas mengapa harus ditulis lagi? Sejauh data baru ditemukan, narasi sejarah tidak
pernah berhenti. Interpretasi yang benar akan menghasilkan narasi yang baik. Hal
itu karena metodologi sejarah terus dikembang. Lalu bagaimana sejarah
Pulau Flores?

adalah salah satu dari empat pulau besar: Timor, Flores, Sumba dan Alor. Pada
masa ini Pulau Flores terbagi menjadi 8 kabupaten; Manggarai Barat, ibu kota di Labuan Bajo; Manggarai,
ibu kota di Ruteng; Manggarai Timur, ibu kota di Borong; Ngada, ibu kota di Bajawa; Nagekeo ibu
kota di Mbay; Ende ibu kota di Ende; Sikka ibu kota di Maumere; Flores Timur ibu
kota di Larantuka; dan Lembata ibu kota di Lewolebampau.
Sejarah
pulau bermula dari namanya: Flores. Nama Florest kali pertama diidentifikasi
pada Peta 1517 sebagai suatu tanjung di ujung timur pulau yang disebut Cabo das
Florest (Tanjung Florest). Bagaimana dengan nama Ende, sebab awalnya nama pulau
sebagai Flores dan Ende saling dipertukarkan? Nama Ende, bukan lagu dalam bahasa Batak, tetapi
seperti Flores yang berasal dari bahasa Portugis, kampong paling ujung.
Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
ntuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Flores Peta 1517: Cabo
das Florest
Seperti
halnya kemenyan dan kamper hanya ditemukan di Tanah Batak ke situlah pedagang asing
pertama datang (India dan Arab) di zaman kuno, juga setali uang para pedagang-pedagang di Makassar datang ke
pulau Solor dan pulau Timor untuk mendapatkan kayu cendana untuk diekspor ke
Tiongkok. Nama Solor menurut peneliti Belanda merujuk pada nama Selayar dan
nama Timor merujuk pada arah mata angin timur dalam bahasa Melayu (lingua
franca yang digunakan di kota pelabuhan Makassar).

Portugis juga melakukan survei (setelah dari Ternate dan Makassar) pada awal
kedatangan orang-orang Portugis yang berbasi di kota pelabuhan Malaka (1511).
Salah satu dari kapal Portugis sampai di pulau Solor dan pulau Timor dimana
orang-orang dari pelabuhan Makassar mengumpulkan kayu cendana. Antonio Reinel
dalam peta yang dibuatnya (Peta 1517) mengidentifikasi empat nama: pulau Solor,
pulau Timor, suatu tanjung Cabo das Florest dan nama tempat Batoetara (pulau
Komba). Taanjung ini adalah garis navigasi pelayaran dari Makassar ke (pulau)
Batoetara terus ke pulau Solor melalui tanjung dan selat. Tanjung inilah yang
diidentifikasi sebagai Cabo das Florest. Ini mirip ketika pelaut-pelaut
Portugis sebelumnya mengidentifikasi tanjung di selatan Afrika yang dalam
peta-peta Belanda (VOC) disebut Goede Hoop (Tanjung Pengharapan). Mengapa
disebut Cabo das Florest (tanjung bunga) tidak diketahui secara jelas.
Dalam
peta-peta selanjutnya hingga era VOC, nama pulau tidak pernah diidentifikasi
dan hanya diidentifikasi Cabo d Florest. Mengapa? Karena tidak dianggap penting dalam navigasi dan perdagangan.
Namun tentu saja nama pulau ini sudah ada, tetapi tidak pernah dicatat
(diidentifikasi orang Eropa). Pulau ini terbilang pulau besar karena itu
memiliki nama (paling tidak sesuai dengan kooditi utama pulau tersebut). Yang
diidentifikasi adalah pulau di sebelah barat (Sumbawa) karena pengaruh perdagagan
Demak-Jepara sudah ada di teluk Bima.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Nama Ende di Pulau Flores di
Era Pemerintah Hindia Belanda
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




