*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini
Ada
nama wilayah (district) di pulau Timor disebut Oecusse (Okusi). Wilayah ini
beribukota di Pante Macassar (namanya merujuk Sulawesi). Wilayah ini menjadi
bagian dari wilayah negara Timor Leste. Sebagian penulis menyebut wilayah ini
wilayah kantorng (enclave) Timor Leste, sesungguhnya hanyalah wilayah yang
terpisah dari (provinsi) Nusa Tenggara Timur (negara Indonesia). Secara teknis
district Oecusse tidak berada di dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timor.
Berbeda dengan Vatikan, berada di dalam (enclave) negara Italia.

hanya antara Indonesia dan Timor Leste, tetapi banyak. Yang paling dekat adalah
antara Indonesia (Kalimantan: Barat, Tengah dan Utara) dan Malaysia (Serawak
dan Sabah). Yang mirip konfigurasi Indonesia-Timor Leste, posisi Oecusse ini
adalah antara district Temburong (Brunei) dengan wilayah Serawak (Malaysia)
atau wilayah Gaza (Palestina) dan Israel. Oleh karena konfigurasi ini masih
dihubungkan (terhubung) laut tidak terlalu masalah (terutama soal pabean). Yang
menjadi pertanyaan, mengapa harus terpisah jauh dan mengapa tidak bisa direkatkan.
Tentu saja ada sejarahnya.
Bagaimana
sejarah Oecusse (Timor Leste) di Pulau Timor? Tampaknya belum ada yang menulisnya mengapa Oecusse harus terpisah
daratan dari Timor Portugis (bacaL Timor Leste). Namun sejarah tetaplah
sejarah. Sejarah Oecusse tentu saja menarik sebagai bagian yang tidak
terpisah dari pulau Timor. Dan tentu saja semakin menarik karena di wilayah Oecusse ada nama Makassar. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
ntuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Oecusse di Pulau Timor: Pante
Macassar
Seperti
halnya orang Belanda pertama mendarat di (pulau) Enggano, kerap Oecusse disebut
sebagai tempat mendarat orang Portugis di Pulau Timor. Kesan itu tidak
sepenting orang Belanda di pulau Enggano (Bengkulu), pendaratan pelaut Portugis
di Oecusse merupakan rangkaian pelayaran Portugis setelah menguasai kota Malaka.
Kota Malaka diduduki Portugis pada tahun 1511 yang dipimpin oleh Alfonso
d’Albuquerque. Orang-orang Portugis yang sudah berada di Malaka tidak langsung
ke (pulau) Jawa tetapi (menjelajah) ke wilayah sekitar Laut Cina sehingga
pelaut-pelaut Portugis menemukan jalan ke Ternate.
Sementara Alfonso d’Albuquerque di Malaka,
pada tahun 1511 pelaut Portugis dengan tiga kapal Anthoni D’Abreu, Francisco
Serrao dan Simao Alfonso Bisigudo pada bulan November melakukan survei ke
Maluku. Salah satu pemimpin kapal adalah Fransisco Rodriguez. Rute yang diikuti
oleh pelaut-pelaut Portugis ini adalah rute yang sejak lama dirintis oleh
orang-orang Moor beragama Islam asal Afrika Utara dari Muar (Semenanjung) ke
Ternate. Peta navigasi pelayaran yang dibuat oleh F Rodriguez dari kapal
D’Abreau adalah peta pertama Portugis pertama. Lalu kemudian ekspedisi ke
Maluku dilakukan pelaut Portugis pada tahun 1513 yang dipimpin oleh Joam Lopez
Alvim. Dua ekspedisi ini masih sebatas survei (pemetaan).
Dalam
berbagai tulisan masa kini disebut Oecusse adalah tempat pertama orang Portugis
mendarat di pulau Timor. Namun tidak diketahui siapa pelaut Portugis yang
pertama mendarat di pulau Timor. Yang jelas bukan Fransisco Rodriguez dan Joam
Lopez Alvim. Yang jelas Pedro Reinel yang melakukan ekspedisi pada tahun 1517
sudah mengidentifikasi nama pulau Timor, pulau Solor dan Batoetara. Pedro
Reinel membuat sejumlah peta (akumulasi dari peta Fransisco Rodriguez. 1511).
Wilayah pulau Timor dan sekitar sebelum kehadiran
orang-orang Portugis adalah wilayah navigasi pelayaran dan perdagangan
orang-orang Macassar (berbahasa Melayu) untuk mendapatkan kayu cendana untuk
diekspor dari Macassar ke Tiongkok. Nama tempat Batoetara diduga adalah pelabuhan
perdagangan dari pedagang-pedagang dari Macassar.
Lantas
mengapa Pedro Reinel mengidentifikasi tiga nama geografis (pulau Timor, pulau
Solor dan Batoetara)? Besar dugaan pulau
Timor dan pulau Solor dianggap dua pulau paling penting sebagai penghasil kayu
cendana dimana terdapat pedagang-pedagang asal Macassar. Nama Batoetara
diidentifikasi diduga kuat adalah nama pelabuhan.
Pada masa ini nama Batoetara
adalah nama gunung di Pulau Komba. Nama kampong pelabuhan Batoetara merujuk
pada nama gunung (atau sebaliknya). Batoetara ini adalah nama tempat yang
paling dekat dengan Macassar (Pulau Macassar, menjadi Pulau Celebes). Dari
pelabuhan inilah pedagang-pedagang Macassar mengumpulkan kayu cendana di pulau
Solor dan pulau Timor.
Orang
Portugis pertama sendiri tidak berada di pulau Timor, akan tetapi di pulau
Solor. Pada tahun 1557 misionaris Portugis membuka stasion di pulau Solor di
kampong Lohayong yang sekarang. Kehadiran misionaris ini di pulau Solor karena
orang-orang dari Macassar sudah sejak lama di pulau ini untuk produksi (mengumpulkan)
kayu cendana. Saat misionaris Portugis datang, di pulau ini sudah banyak
pendatang (yang berasal dari Macassar). Pedagang-pedagang Portugis jauh sebelum
kehadiran misionaris (pertama) Portugis juga sudah membeli kayu cendana di
pulau Solor (Lohayong) dan di pulau Timor (Pante Macassar). Karena rute
perdagangan Portugis inilah kemudian misionaris Portugis menyusul.
Seperti halnya orang-orang Melayu (Macassar) membentuk koloni di pulau
Solor dan pulau Timor, orang-orang Moor sudah sejak lama bermukim (koloni) di
Pulau Soembawa di Bima. Sejak 1593 orang-orang Jepara (Demak) berdagang dan
membentuk koloni di pulau Lombok (perluasan dari pulau Bali). Orang-orang
beragama Islam di Solor dan sekitar diduga kuat karena pengaruh perdagangan
orang-orang Moor (seperti halnya di Ternate). Sementara orang-orang beragama
Islam di Lombok diduga kuat karena pengaruh perdagangan orang-orang Jepara.
Surat seorang Misionaris B Dias (1559) mengindikasikan bahwa orang Makassar di
Celebes belum beragama Islam (tetap di Ternate dan Tidore sudah sejak lama).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pante Macassar: Era Kesultanan
Gowa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




