*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini
Gambaran
masa kini dengan zaman kuno pada suatu wilayah kerap berbeda. Diantara jarak
waktu yang lama itu sejarah Caringin berlangsung. Kota Caringin di zaman kuno,
kini hanya sekadar nama desa di kecamatan Labuhan, kabupaten Pandeglang.
Sejatinya, Caringin adalah kota paling kuno di selatan wilayah Banten yang
sekarang, jauh lebih tua dari kota Labuhan dan kota Pandeglang. Bagaimana bisa?

dan empat Kota. Empat kabupaten tersebut adalah kabupaten Lebak (ibu kota di
Rangkasbitung), kabupaten Pandeglang (ibu kota di Pandeglang), kabupaten Serang
(ibu kota akan pindanh dari Kota Serang ke Ciruas) dan kabupaten Tangerang (ibu
kota telah relokasi dari Kota Tangerang ke Tigaraksa). Nama kabupaten
Pandeglang mengikuti nama kota Pandeglang. Kabupaten Pandeglang terdiri dari
banyak kecamatan, sebanyak 35 buah. Beberapa nama kecamatan yang terbilang nama
lama adalah Pandeglang (ibu kota kabupaten), Carita, Labuhan, Panimbang,
Pulosari. Dua desa di kecamatan Labuhan adalah desa Labuhan dan desa Caringin.
Beberapa pulau dekat pantai di kawasan barat Banten ini yang terkenal adalah pulau
Panaitan. Last but not least: selatan wilayah Ujung Kulon dan din utara wilayah
kawasan gunung Karang berbagi dengan kabupaten Serang. Kota Pandeglang berada
di lerang gunung tersebut. Kota Pandeglang di pegunungan terhubung dengan kota
Labuhan dan kota Caringin di pantai.
Sejarah
kerap menunjukkan kejutan. Sejarah Caringin sejatinya adalah awal sejarah
(kabupaten) Pandeglang sendiri. Namun selama ini kurang terinformasikan. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Permulaan tersebut berada di kota pelabuhan Tjaringin zaman kuno. Tjaringin
sendiri awalnya adalah suatu pulau: Pulau Cheringin. Nah, lho!.Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Caringin: Labuhan dan
Pandeglang
Selain
nama Anyer, pada masa ini di pantai barat Banten hanya terkenal nama (pantai)
Carita dan kota Labuhan. Nama Caringin tenggelam diantara nama-nama Carita dan
Labuhan serta Pandeglang. Cerita tentang Caringin (Banten) seakan tidak ada
dalam lembar sejarah. Pada masa ini hanya Caringin yang di kabupaten Bogor
(kecamatan), kabupaten Sukabumi (Situ Gunung) dan Kota Bandung (kelurahan) yang
dikenal luas. Padahal sejatinya itu semua bermula dari Caringin Banten. Nama
yang sudah lama di zaman kuno. Nah, lho! Nama Caringin sendiri adalah satu hal,
sedangkan nama Ciwaringin (di Cirebon dan Bogor) adalah hal lain lagi.
Nama Caringin merujuk pada nama India di zaman
kuno (Chari-ngia). Hal itu juga mirip dengan Chara-boan (Cirebon) dan Chere-goan
(Cilegon). Tentu saja nama-nama Carita dan Labuhan merujuk pada nama-nama India
di zaman kuno. Nama Pandeglang juga merujuk pada nama India. Dengan kata lain,
nama-nama kota di pantai barat Banten sudah eksis sejak zaman kuno era Hindoe.
Lantas
mengapa lebih tua Caringin daripada Carita dan Labuhan? Seperti halnya Anyer, Caringin di zaman kuno adalah
pintu gerbang (gateway) menuju pedalaman di (lereng gunung Karang). Caringin
adalah kota pelabuhan kuno sebelum terbentuknya pelabuhan baru di Labuhan. Pada
masa itu, Caringin berada di suatu teluk di muara sungai Caringin. Kota
pelabuhan Caringin ini begitu dekat dengan pedalaman (sementara Carita dan
Labuhan masih wilayah basah, rawa-rawa).

kuno tidak berada di desa Caringin yang sekarang. Akan tetapi lebih ke dalam di
daerah aliran sungai Caringin. Sumber air sungai Caringin berasal dari gunung
Pangajaran dan gunung Pulosari. Tempo doeloe nama sungai Caringin adalah sungai
Dangur (nama yang merujuk nama India). Tetangga dua gunung ini adalah gunung
Karang (hulu sungai Cibanten ke pantai utara) dan gunung Pulosari (muara sungai
Tjiangoeng di Labuhan dan sungai Tjibama di Menes). Di kawasan pegunungan
inilah di zaman kuno sebagai wilayah peradaban yang berpusat di kawasan danau
vulkanik (danau Dano). Pintu masuk menuju wilayah peradaban di pedalaman ini
diakses dari tiga titik utama: Banten, Anyer dan Caringin. Oleh karena itu
ketiga nama pelabuhan ini adalah pelabuhan-pelabuhan kuno di Banten.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Perkembangan Kota Pandenglang:
Caringin Masa Lalu, Labuhan Masa Depan
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





