*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Nama
pulau Togian menjadi lebih terkenal setelah penemuan burung endemik di pulau
tersebut. Nama burung endemik asli pulau Togian tersebut diberi nama Zosterops
somadikartai untuk menghormati nama Bapak Ornitologi Indonesia, Prof Dr
Soekarja Somadikarta. Burung endemik adalah burung yang hanya ditemukan di
tempat tertentu. Burung Zosterops somadikartai hanya ditemukan di Togian.

endemik. Di pulau Togian (kini bagian dari wilayah kabupaten Tojo Una-Una, provinsi
Sulawesi Tengah), paling tidak terdapat dua jenis burung endemik. Nama ilmiah
kedua burung ini menggunakan nama orang Indonesia. Punggok togian (Ninox burhani) adalah spesies pungguk (sejenis
burung hantu) dari suku Strigidae. Burung ini menyebar terbatas (endemik) di kepulauan
Togian, Dalam bahasa Inggris, burung ini dikenal sebagai Togian boobook atau
Togian hawk-owl. Nama burhani merujuk pada nama seorang penduduk Desa Benteng
di pulau Togian, Burhan, seorang pelestari burung setempat. Sementara itu Zosterops somadikartai adalah sejenis
burung dari suku Zosteropidae yang bersifat endemik. Dalam bahasa Indonesia
nama burung ini disebut burung Kacamata Togian.
Bagaimana
sejarah pulau Togian? Nah, itu dia. Selama
ini nama (pulau) Togian hanya dikenal sebagai nama pulau di Sulawesi Tengah
tempat dimana terdapat burung endemik, yang salah satu nama laitinnya merujuk
pada nama Bapak
Ornitologi Indonesia, Prof Dr Soekarja Somadikarta. Namun sejarah adalah sejarah.
Sejarah adalah narasi fakta dan data. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan tentang permulaan sejarah pulau
Togian dan untuk
meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Togian
Pada
masa ini di teluk Tomini terdapat sejumlah pulau. Pulau-pulau tersebut semuanya
masuk wilayah kabupaten Tojo Una-Una, provinsi Sulawesi Tengah (pemekaran dari
kabupaten Poso sejak 2003). Pulau-pulau tersebut antara lain adalah Batudaka,
Togean, Melenge, Waleabahi dan Una-Una. Pulau Una Una agak terpisah sendiri di
tengah teluk. Lantas mengapa nama kabupaten disebut Tojo Una-Una?
Namun kabupaten disebut Tojo Una-Una adalah satu
hal. Satu hal yang lain yang penting adalah tentang pulau Togian. Yang jelas,
seperti disebut di atas di kawasan pulau ini ditemukan burung endemik. Wilayah
ini sudah dikenal sejak era VOC yang berada di bawah kekuasaan ke(raja)an
Ternate. Pada tahun awal era Pemerintah Hindia Belanda termasuk wilayah
Residentie Ternate. Pada tahun 1924 Residentie Ternate dimekarkan dengan
membentuk Residentie Manado. Meski demikian, pemerintah yang beribukota di
Manado terbilang jarang atau tidak pernah mengunjungi wilayah teluk Tomini.
Selama ketidakhadiran pemerintah di wilayah teluk ini sering terjadi pengacauan
(perampokan) terutama yang berasal dari Mindanao.
Nama
pulau Togian sudah dicatat sejak lama. Paling tidak nama Togian sudah disebut
pada tahun 1854 (lihat Nederlandsche staatscourant, 31-08-1854). Disebutkan Residen
[Manado] pada bulan Zr. Ms, kapal uap ssi Etna berangkat ke Gorontalo, untuk
mengunjungi tempat itu dan teluk Tomini. Pada kesempatan itu, pulau Banka,
Belang, Totokh, Kotta Boena (dalam lanskap Bolang Magondo), Gorontalo,
Limbotto, Pagoeat, Moton, Parigie, Todjo, Ampanan dekat Tandjong Apie dan
Togian dikunjungi.
Disebutkan bahwa di teluk Tomini perdagangan
terhubung dengan Singapura dipasok [kain] linen, amphion, senjata,
rempah-rempah, dll. Perdagangan dari sana di Paloe dan di atas Parigie dan
Togean, di teluk, sangat ramai dimana orang-orang Boegis menjadi perantara.
Wilayah dari Parigie hingga Todjo dihuni oleh suku Alfoersche [penduduk yang
masih pagan] yang sulit dijangkau. Dalam hal ini penduduk Togean [Togian] sudah
beragama.
Kunjungan
Resident Manado pada tahun 1854 ini diduga adalah kunjungan pertama pemerintah
setingkat residen ke teluk termasuk pulau Togian. Kunjungan ini diduga dalam
rangka pendekatan dengan para pemimpin lokal baik terhadap wilayah yang telah
diadministrasikan maupun yang belum. Pada saat ini wilayah di Residentie Manado
baru lima afdeeling yang diadministrasikan yakni afdeeeling Manado, afdeeeling Tondano
(Minahasa), afdeeeling Kema, Afdeeeling Amoerang dan afdeeling Gorontalo.
Wilayah Bolaang Mengondow dan wilayah Sangir masuh berstatus lasnkap (belum
diadministrasikan).
Afdeeling Gorontalo terdiri dari seluruh
bentang alam yang berada di sebelah utara ibu kota Gorontalo dan teluk Tomini
atau teluk Gorontalo yang meliputi Limbotto, Bone, Bintauna, Soewawa, Bolango,
Attingola, Boalemo, Moeton, Parigi, Saoessoe, Posso, Tongko dan Todjo, serta
pulau-pulau di teluk di Kepulauan Togian. Wilayah Gorontalo yang meiliputi Gorontalo,
Limbotto, Bintauna, Soewawa, Bolango, Attingola, Bone dan Boealemo, yang berada
diantara danau langsung diawasi oleh Asisten Residen yang berada di Gorontalo. Sementara
wilayah Moeton dan Parigi hanya dalam status politik kepada pemerintah menurut kontrak
pada tahun 1850. Sedangkan lanskap di
sepanjang pantai selatan teluk Tomini dan Kepulauan Togian bukan wilayah
langsung terkait dengan pemerintah.
Hingga
tahun 1954 wilayah Poso dan sekitar serta pulau di (kepulauan) Togian masih bersifat
independen. Wilayah (kerajaan) Moeton dan Parigi sudah ada kontrak dengan Pemerintah
Hindia Belanda. Salah satu wilayah yang masih independen ini adalah (kerajaan)
Todjo yang didekatnya berada kepulauan Togian. Penduduk di kepulauan Togian
diperkirakan berjumlah 700 hingga 800 jiwa.
Wilayah-wilayah pantai dan teluk Tomini ini
sebelumnya berada di bawah otoritas Soeltan Ternate. Namun belum lama ini
disebutkan wilayah-wilayah eks Soeltan Ternate ini diklaim oleh kerajaan Bone
sebagai bagian wilayahnya, Namun demikian radja dan pemimpin lokal di wilayah
ini tidak terikat dengan Bone. Para pedagang asal Boegis di wilayah ini tidak
memiliki kekuatan memungut pajak. Hal inilah yang mendasari mengapa para
pangeran Parigi dan Todjo serta para pemimpin Togian melakukan kontrak dengan
Pemerintah Hindia Belanda.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




