Dalam peta-peta yang diterbitkan tersebut di sisi timur sungai Bekasi
lahan dimiliki oleh Kapitein Soeta Wangsa, Pangeran Poerbaja dan beberapa nama
Eropa/Belanda. Di pantai utara sebelah timur adalah lahan Kapitein Jonker. Di
sekitar sungai Tjakoeng lahan milik Captain Boegis dan nama-nama Eropa lain. Di
sebelah barat sungai Angke hingga sisi barat sungai Tjisadane terdapat lahan-lahan
Desserr van de Michiels Pinet, Lionko Chinees, Diferente Pergoenen, Gusty
Badoeloe dan Intje Samfoedin (Intje Bagoes). Nama-nama ini mengindikasikan nama-nama asal
daerah. Di area lahan-lahan kemudian terdapat nama kampong Bali, kampong Boegis
dan kampong Jawa.
1732 ini diduga terkait dengan adanya kebijakan pemerintah VOC untuk menjual
lahan-lahan kepada swasta dengan satus lahan partikelir (land).
Pengembangan Kota Tangerang
mulai mendirikan rumah-rumah di sekitar benteng. Sementara lahan-lahan mereka
berada di sepanjang daerah sungai Tjisadane dan wilayah di sisi timur dan sisi
barat sungai Tjisadane. Lambat laun pemukiman orang Eropa/Belanda di sekitar
benteng semakin ramai. Area pemukiman baru ini berkembang dari benteng ke arah
hulu sisi barat sungai Tjisadane. Untuk mendukung pertahanan ke arah hulu, di
sisi timur sungai Tjisadane dibangun lagi benteng baru yakni Fort Sampoera (di sekitar
Serpong yang sekarang).
land yang terbentuk (yang kemudian dikenal tanah partikelir) di sepanjang
sungai Tjisadane adalah land Pakadjangan, land Teloknaga, land Kelor, land
Kedawoeng, land Paroengkoeda, land Pasar Baroe, land Babakan, land Krawatji,
land Tjikokol, land Bodjong Larang, land Tanahtinggi, land Kalideres, land Kemiri, land Maoek, land
Rawaboeaja dan land Tjengkareng.
disebut pemberontakan oleh orang-orang Cina. Pemberontakan ini merupakan ekses
dari kebijakan VOC yang memulai menerapkan kebijakan pembatasan migran Cina dan
pendeportasian sebagian migran Cina tahun 1732. Kebijakan ini mendapat reaksi
dan kemudian orang-orang Cina (migran) dan sebagian orang-orang Tionghoa
(migran yang sudah lama menetap) melakukan semacam rencana perlawanan (kudeta).
Mengetahui situasi politik yang semakin memanas Gubernur Jenderal Adriaan
Valckenier (1737-1741) mengeluarkan instruksi perang terhadap pemberontak.
perang ini tidak kurang dari 10.000 orang Cina terbunuh di berbagai tempat di
seputar Batavia. Tragedi Cina (Chinezenmoord) dilaporkan kali pertama oleh
surat kabar Oprechte Haerlemsche courant edisi 15-07-1741 dan edisi 18-07-1741).
Chinezenmoord ini menjadi duka yang paling dalam bagi orang-orang Tionghoa di
seluruh Hindia Timur.
Orang-orang Cina di daerah aliran sungai Bekasi yang umumnya bekerja di
perkebunan tebu dan pabrik gula membakar seluruh properti orang Eropa/Belanda.
Di Tangerang, orang-orang Cina yang marah juga menduduki benteng Tangerang dan
membakar properti orang-orang Eropa/Belanda. Ekses ini juga ditemukan di
Semarang dan Vorstelanden (yang bekerjasama dengan orang Jawa menduduki
sejumlah benteng VOC di pedalaman).
Perang Cina (lebih tepatnya disebut Chinezenmoord) Gubernur Jenderal yang baru Johannes
Thedens (1741-1743) mulai beres-beras cuci piring: cooling down. Johannes
Thedens, meski ada risiko, menganggap orang Cina adalah potensi ekonomi yang
perlu dimaksimumkan untuk tujuan VOC. Dalam posisi orang Cina setengah marah
dan setengah frustasi, Johannes Thedens mulai membangkitkan kehidupan
orang-orang Cina kembali seperti sebelum terjadinya perang. Memusuhi
orang-orang Cina hanya memperburuk sendi-sendi ekonomi VOC. Orang-orang Cina
bukanlah musuh yang sebenarnya, musuh VOC yang sebenarnya adalah orang Inggris
dan Prancis yang setiap saat dapat melumpuhkan orang Belanda, orang-orang Cina
yang ada di Hindia Timur adalah orang-orang dari Tanah Tiongkok yang mengadu
peruntungan dan mencari kehidupan baru di Hindia Timur. Johannes Thedens dengan
sadar mulai membina kerjasama dengan orang-orang Tionghoa dengan mengangkat
pimpinannya. Kebijakan umum VOC menjadikan penduduk pribumi sebagai subjek
diperluas dengan menjadikan orang Cina sebagai subjek. Pemerintah VOC akan
mengontrol orang-orang Cina di Hindia Timur melalui para pemimpinnya dengan
mengangkat sejumlah letnan Cina.
meningkatkan penataan pola bertempat tinggal di setiap kota-kota utama.
Penataan ini juga sekaligus untuk melakukan pengawasan ketet terhadap orang-orang
Cina. Ibarat kata, yang sudah berlalu, berlalulah. Di Tangerang, roda
perekonomian digerakkan kembali. Benteng Tangerang lebih diperkuat kembali,
pola bertempat tinggal orang Tionghoa dan migran Cina disatukan dalam satu area
tertentu yang disebut kampement. Area kampement ini dibatasi oleh batas-batas
tertentu yang pada intinya ingin membedakan pemukiman orang-orang Eropa/Belanda
di satu pihak dengan pemukiman orang Tionghoa dan pribumi di pihak lain.
![]() |
| Kota Tangerang (Peta 1901) |
Sementara
itu, ekses lain dari Chinezenmoord di Batavia, orang-orang Tionghoa mengungsi
atau melarikan diri ke berbagai tempat termasuk ke wilayah pedalaman di daerah
aliran sungai Tjiliwong, sungai Tjisadane dan sungai Bekasi. Orang-orang migran
Cina yang tidak bisa pulang atau yang ingin menetap berbaur dengan orang-orang
Tionghoa membentuk koloni-koloni kecil atau kampung-kampung terisolir dengan
mengusahakan pertanian. Beberapa kampong Tionghoa yang sudah lama menjadi
populasinya meakin banyak. Mereka yang membangun kampung-kampung kecil yang
baru ini menjalin komunikasi dengan penduduk kampong-kampong pribumi, terutama
dalam hal pertukaran (perdagangan). Perkampongan orang-orang Tionghoa banyak
diantaranya menjadi pusat transaksi (perdagangan) yang lambat laun terbentuknya
pasar kaget. Pasar-pasar dadakan ini oleh pemilik land dikooptasi menjadi
sumber-sumber pendapatan baru. Â Â
Di Tangerang, pemukiman
orang Eropa/Belanda mengikuti alamiahnya berada di dekat benteng. Pemukiamn
orang Tionghoa berada di luar pemukiman orang Eropa/Belanda tetapi terpisah
dengan pemukiman orang pribumi. Pola ini terkesan bersifat rasial, tetapi pada
intinya pemerintah VOC melokalisir pola pemukiman terpisah ini semata-mata
untuk keperluan pengawasan dengan mengangkat para pemimpinnya yang berada di
dalam komunitas. Untuk orang-orang timur asing lainnya seperti Arab dan Moor
juga dibuat terpisah. Pemukiman orang-orang Timur Asing lainnya adakalanya
menjadi pembatas area pemukiman orang Eropa/Belanda dengan area pemukiman
(kampement) Tionghoa. Namun yang muncul pemukiman orang-orang Timur Asing
lainnya terutama orang Arab/Moor lebih menyatu (berimpit) dengan pemukiman
orang pribumi yang berpusat di sekitar masjid (kaoeman).








