Pada
tanggal 20 November 1762 beberapa orang Banten baru pulang dari Mekkah. Mereka
berangkat naik haji dan saat kembali mereka menumpang kapal perusahan VOC.
Catatan ini ditemukan dalam Daghregister di Kasteel Batavia. Besar dugaan
catatan ini adalah catatan tertua VOC tentang pribumi melakukan perjalanan haji
ke Mekkah. Pada era ini antara Pemerintah VOC di Batavia dengan Kerajaan Banten
memiliki hubungan yang baik.
Malaka dan Jawa juga dimanfaatkan orang pribumi sebagai moda transportasi haji
ke Makkah. Kapal-kapal dagang dari Arab ini bahkan masih intens hingga
pendudukan Inggris di Jawa (1811-1816). Tempat pemberangkatan haji (embarkasi)
berada di kampong Loear Batang, Batavia.
mengkooptasi perjalanan haji orang pribumi ke Jeddah. Untuk setiap calon jemaah
haji dikenakan retribusi dan diarahkan untuk menggunakan kapal orang Belanda.
Mengabaikan aturan ini tidak diberikan surat jalan (paspor) dan dapat dikenakan
sanksi.
ini sesungguhnya terbilang longgar. Meski demikian, itu sudah menguntungkan
Pemerintah. Di satu sisi mendapatkan pajak perjalanan dan di sisi lain meningkatkan
jumlah penumpang kapal-kapal Belanda. Namun aturan sederhana ini ternyata
menimbulkan sejumlah persoalan. Banyak yang berangkat tetapi banyak yang tidak
kembali, apakah karena meninggal atau bermukim di Mekkah karena kehabisan uang.
Selain syarat terdahulu, syarat baru harus memenuhi bagi calon jemaah yang
benar-benar mampu (secara finansial). Aturan ini juga menjadi beban tambahan
bagi pemerintah daerah (Asisten Residen dan Controleur). Besarnya biaya fiskal
setiap calon jemaah sebesar f25 hingga f100 (lihat Nederlandsche staatscourant,
07-09-1859).
jemaah haji yang berangkat dari waktu ke waktu terus meningkat. Ini
mengindikasikan tingkat kemakmuran makin meningkat. Pada tahun 1853 jumlah
jemaah haji yang berangkat sebanyak 1.100 orang. Jumlah ini telah meningkat 2.000
pada tahun 1858. Untuk mengawasi jemaah Hindia Belanda di Jeddah, pemerintah
mendirikan konsulat di Jeddah 1872. Salah satu konsuler (semacam dubes) yang
terkenal adalah Snouck Hurgronje.
Para calon haji di satu sisi menjadi lebih selektif tetapi di sisi lain layanan
kapal selama pelayaran kurang diperhatikan pemerintah. Tingkat kesakitan dan
jumlah meninggal, meski sudah menurun, tetapi secara absolut masih tinggi.
Tidak adanya pemandu perjalanan dan pemandu selama menjalankan haji di Mekkah
menambah daftar layanan yang seharusnya diperhatikan pemerintah. Meski demikian,
jumlah jamaah tetap meningkat dari tahun ke tahun.
tahun 1900 pemerintah menunjuk seorang mantan guru yang pernah menjalankan haji
ke Mekkah sebagai pemandu perjalanan haji yakni Dja Endar Moeda. Pemandu haji
ini adalah orang yang sudah dikenal oleh adalah Snouck Hurgronje. Dja Endar
Moeda pernah ditempatkan sebagai guru di Singkel tahun 1887. Setelah pensiun,
Dja Endar Moeda dari Singkel berangkat ke Mekkah untuk menunaikan haji.
Sepulang dari Mekkah, pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mendirikan sekolah di
kota Padang dan membeli surat kabar berbahasa Melayu Pertja Barat tahun 1900.
Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, kelahiran Padang Sidempoean adalah alumni
sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean pada tahun 1884.
pribumi meminta pemerintah memperbarui ordonatie 1859 karena tidak sesuai
dengan situasi dan kondisi terkini (lihat Soerabaijasch handelsblad, 11-08-1900).
Sehubungan dengan semangat perubahan itu, Dja Endar Moeda berinisiatif dan
secara sukarela membuat pedomana perjalan haji yang dapat membantu calon jemaah
terutama bagi yang belum pernah sebelumnya ke Mekkah.
![]() |
| Soerabaijasch handelsblad, 11-08-1900 |
Pedoman
haji ini berisi berbagai hal yang terkait dengan persiapan yang harus dilakukan
oleh calon jemaah haji. Hal-hal yang diperhatikan selama pelayaran dan perjalan
dari Jeddah ke Mekkah dan uraian pelaksanaan haji.
tahun 1902 pemerintah menerbitkan pedoman haji yang tidak lain merupakan adopsi
pedoman perjalanan haji yang telah dibuat oleh Dja Endar Moeda. Pedoman ini
kemudian dicetak dan diedaerkan ke seluruh Hindia Belanda melalui Asisten
Residen dan Controleur.
menjadi guru besar di Leiden memberikan seminar dengan judul Hadji-politiek der
Indische Regeering (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-04-1909).
Isi makalah ini meyakinkan sebagian pihak Belanda mengkhawatirkan para haji
Hindia Belanda jika kembali ke tanah air. Menurut sang profesor mereka
konservatif dan balik bertanya apakah anda tidak memerlukan 7.000 jamaah tiap
tahun di kali f500 sebesar f 3.500.000?
jadi analisis Dr. C Snouck Hurgronje tidak hanya berdasarkan pengalamannya dulu
sebagai kocul di Jeddah dan laporan konsul baru-baru ini, tetapi juga Dr. C Snouck
Hurgronje melihat situasi kondisi mahasiswa-mahasiswa pribumi yang tengah studi
di Belanda. Seperti disebutkan Dr. C Snouck Hurgronje jemaah-jemaah haji yang
tidak segera pulang karena mereka belajar agama di Mekkah dan sungguh-sungguh
belajar. Apakah ini yang menjadi alasan bagi Dr. C Snouck Hurgronje menyimpulkan
para jamaah yang ke Mekkah bersifat konservatif? Sebagai catatan tambahan:
jumlah mahasiswa pribumi di Belanda pada tahun 1909 sebanyak 30 orang. Pada
tahun 1905 ketika Soetan Casajangan tiba di Belanda baru lima orang mahasiswa
pribumi yang datang ke Belanda untuk kuliah. Pada tahun 1908 jumlahnya sudah
menjadi sebanyak 20 orang. Pada saat inilah Soetan Casajangan mengundang semua
mahasiswa ke rumahnya untuk membicarakan pendirian organisasi mahasiswa yang
disebut Indische Vereeniging. Lalu secara aklamasi Soetan Casajangan ditunjuk
sebagai presiden. Organisasi ini di era Mohamad Hatta pada tahun 1924 namanya
diubah menjadi Perhimpoenan Indonesia. Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan
adalah kelahiran Padang Sidempoean, alumni sekolah guru (kweekschool) Padang
Sidempoean tahun 1887. Soetan Casajangan adalah adik kelas Dja Endar Moeda.
dengan pendapat dan kesimpulan Prof. Dr. C Snouck Hurgronje. Seseorang menulis
pada surat kabar Bataviaasch nieuwsblad, 08-07-1909 yang pada intinya
kekhawatiran itu nyata adanya dengan merujuk pada pemberontakan haji di
Tjilegon, Banten pada tahun 1888 (namun segera dapat dipadamkan, pen).
Bekasi
blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah
menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat
tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton
sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan
sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam
memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini
hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







