Pergeseran
lintasan jalur kereta api tentu saja ada untungnya bagi keberadaan perumahan di
Gondangdia, tetapi menjadi kerugian di pembangunan perumahan di Menteng karena
harus kehilangan lahan lagi setelah sebelumnya kehilangan lahan akibat
pembangunan banjir kanal barat. Pergeseran jalur rel ini ke kanal barat
sejatinya untuk yang kali kedua. Pergeseran pertama terjadi pada tahun 1903
dari Prapatan/Gondangdia digeser ke Tjikini/Gondangdia sehubungan dengan
pembangunan lintasan di Salemba/Paseban. Pergeseran yang kedua ini dari Tjikini
(via Gondangdia) ke Manggarai (via Menteng) adalah perubahan yang terakhir
(hingga masa ini). Bekas jalur kereta api tersebut kemudian dibangun kanal
drainase yang sisi sebelah selatan kanal ini adalah jalan Soetan Syahrir yang
sekarang.
pertanyaan awal. Dimana posisi gps landhuis Menteng? Setelah memperhatikan
semua aspek yang terkait dengan pengembangan Land Menteng menjadi Perumahan
Menteng, letak landhuis Menteng tersebut diduga kuat berada di huk jalan kanal
barat dan jalan Mampangweg. Pada masa ini landhuis Menteng tersebut berada di
huk jalan Latuharhari dengan jalan Cik Ditiro. Sebuah foto bangunan dibuat pada
tahun 1934 mengindikasikan bahwa landhuis tersebut masih ada. Keterangan
didukung dengan Peta 1934.
![]() |
| Sebuah bangunan yang diduga Landhuis di Menteng (1934) |
Berdasarkan
Peta 1920, Peta 1934 dan Peta 1940 area lanhuis Menteng ini (yang pada masa
kini diantara jalan Latuharhari, jalan Madiun, jalan Mangunsarkoro dan jalan
Cik Ditiro adalah pusat (komplek) pasukan berkuda (Cavalerir Kampement).
Komplek ini juga termasuk komplek Pomdan Jaya di jalan Guntur yang sekarang.
Kampemen kaveleri ini sebelumnya berada di benteng (fort) Meester Cornelis,
yang setelah pindah ke Menteng kamp kavelerie Meester Cornelis tersebut
dijadikan penjara (dekat jembatan yang dari jalan Jatinegara Barat ke Dipo
Bukitduri). Sebelum kaveleri ini dipindahkan ke Meester Cornelis, pada era
Gubernur Jenderal Daendels kamp kaveleri ini berada di benteng (fort) Rijswijk
(kini berada gedung Bank BTN). Lantas kapan kamp kaveleri Menteng
dialihfungsikan menjadi perumahan? Besar dugaan itu terjadi pada era Belanda/NICA
yang bersamaan dengan pembangunan jalan dan jembatan terusan Koningsplein (yang
kini menjadi jalan MH Thamrin). Sisa kampemen kaveleri yang berada di jalan
Guntur yang sekarang menjadi Komplek Pomdam Jaya (Asrama Polisis Militer dan Penjara Militer Guntur).
Indonesia, 1950
Era
kolonial Belanda berakhir pada tahun 1942 setelah terjadinya pendudukan (militer)
Jepang. Tidak ada perubahan yang berarti di kawasan perumahan Menteng.
Segalanya telah selesai dibangun. Satu hal yang perlu dicatat pada era
pendudukan militer Jepang adalah nama-nama jalan utama yang berbau Belanda
diganti dengan nama-nama berbau Jepang (lihat De bevrijding: weekblad uitgegeven
door de Indonesische Vereniging Perhimpoenan Indonesia, 26-05-1945). Nama jalan
poros di kawasan Perumahan Menteng yakni Oranje-boulevard diubah namanya menjadi
Djalan Raya Showa dan Nassau-boulevard menjadi Djalan Raya Meiji.
![]() |
| Foto udara kawasan perumahan Menteng, 1943 |
Setelah
Belanda berkuasa kembali pasca proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945),
nama-nama jalan yang ada (sebelum tahun 1942) diberlakukan kembali (karena
memang surat keputusannya belum diubah). Penabalan nama jalan dan perubahannya
dilakukan melalui mekanisme peraturan kota yang disahkan oleh dewan kota.
nama-nama jalan di era kolonial Belanda diubah Pemerintah RI via Wali Kota
Djakarta. Perubahan nama ini dilakukan secara bertahap dimulai tahun 1950.
Sebelumnya nama Batavia telah diubah menjadi Djakarta.
transisi perubahan nama masih tampak keraguan, seperti nama Oranje Boulevard
menjadi Djalan Raja Oranje (lihat Provinciale Drentsche en Asser courant,
08-04-1950). Namun dalam perkembangannya, Oranje Boulevard diubah sepenuhnya
menjadi Djalan Diponegoro (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 10-10-1950). Bersamaan dengan perubahan nama menjadi
Djalan Diponegoro ini juga berubah nama jalan dan nama taman. Nassau Boulevard
menjadi Djalan Imam Bondjol, Burgemeester Bisschopplein menjadi Taman Surapati
dan Van Heutzboulevard menjadi Djalan Teuku Umar. Total ada perubahan nama
jalan sebanyak 30 buah.
sebanyak 30 buah lagi (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 11-10-1950). Dengan demikian nama jalan yang telah
diubah menjadi 60 buah. Nama-nama jalan yang baru diubah tersebut termasuk
diantaranya Nieuwe weg van Gambir Selatan (Kebonsirih) menjadi Djalan Thamrin. Nieuwe
weg van Gambir Selatan baru dibangun pada tahun 1949.
Belanda/NICA berkuasa kembali, pada tahun 1948 muncul gagasan untuk membangun
kota satelit Kebajoran. Untuk menghubungkan rencana kota satelit dengan Batavia
(Kingsplein) direncanakan pembangunan jalan akses dengan membangun jalan baru
dari Koningsplein melewati belakang perumahan Menteng dan membangun jembatan di
atas kanal barat/rel kereta api. Pembangunan jalan dan jembatan dimulai pada
bulan Mei 1949 dan selesau pada bulan Oktober 1949. Jalan inilah yang disebut
Nieuwe weg van Gambir.
buah (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 16-10-1950). Jumlah nama jalan/taman yang berubah telah
mencapai sebanyak 90 buah. Setelah itu kemudian perubahan nama tambahan
diumumkan yakni Sunset Boulevard diubah namanya menjadi Djalan Djawa (Nieuwe
courant, 17-11-1951).
nama-nama jalan yang diubah tersebut berada di sekitar Istana dan Menteng. Pada
bulan April 1952 diumumkan terjadi perubahan nama-nama jalan dan nama taman
(lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
03-04-1952). Total ada sebanyak 41 buah. Secara keseluruhan pada fase pertama
ini, hingga bulan April 1952 sudah ada sebanyak 131 nama jalan/taman yang
diganti. Meski demikian, beberapa nama jalan susulan diumumkan.
Djalan Teuku Tjiditiro (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 24-12-1953). Dalam hal ini nama jalan Djalan Mampang
(dulu Mampangweg) diganti namanya menjadi Djalan Teuku Tjiditiro. Disebutkan
bahwa Teuku Tjiditiro adalah pemimpin perlawanan di Aceh. Dalam arti tertentu,
dia lebih penting daripada Teuku Umar—yang kami ketahui dari buku sejarah—
karena Teuku Umar mengikuti perintahnya dan bergabung dalam perang melawan
tentara Belanda sesuai dengan strategi Teuku Tjiditiro. Jadi dia adalah jiwa
dari perlawanan di Atjeh.
![]() |
| Kawasan Menteng (Peta 1985) |
Setelah
sekian lama diumumkan kembali nama jalan yang baru dan pergeseran nama jalan
(lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
27-11-1954). Nama jalan baru tersebut adalah Djalan Hadji A. Salim  untuk menggantikan Djalan Geredja Theresia.
Sedangkan nama jalan  Geredja Theresia
digeser menempati nama jalan Djalan Sunda. Sedangkan nama Djalan Sunda sendiri
menempati jalan yang baru dibangun, yaitu jalan yang menghubungkan Djalan
Thamrin dengan Djalan Hadji Agus Salim.
tidak sudah dilaporkan adanya pada tahun 1913 (lihat Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 20-05-1913). Jalan ini dibangun tahun 1913 yang merupakan
terusan jalan Gondangdia (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-08-1913).
Jalan ini merupakan jalan paling besar dari Koningsplein menuju selatan kota
(tentu saja belum ada jalan MH Thamrin yang sekarang). Disebut jalan Mampang karena
arahnya menuju selatan di Land Mampang. Pembangunan jalan Mampang ini bersamaan
dengan pembangunan Orangeboelevard (kini jalan Diponegoro). Pembangunan dua
jalan ini dalam rangka eksploitasi pembangunan pemukiman yang baru.
![]() |
| Kawasan Menteng jaman Now (googlemap) |
Jalan
MH Thamrin telah menjadi jalan poros (baru) menggantikan jalan poros (lama)
Mampangweg (jalan Tjik Ditiro). Dalam perkembangannya nanti dibangun lagi jalan baru
dari kawasan perumahan Menteng melalui Koeningan. Jalan ini kemudian diberi nama
jalan Rasuna
Said. Sebagaimana doeloe Mampangweg
diteruskan ke Mampang Prapatand  (persimpangan
dari Menteng, dari Pantjoran, dari Slipi dan dari Doerian Tiga. Setelah
Mampangweg diganti menjadi jalan Tjik Ditiro pada masa kini, jalan Mampang
tidak dikenal karena yang eksis adalah jalan Mampang Prapatan. Dengan kata
lain, nama jalan Mampang telah lama tiada karena nama Jalan Mampang telah
diganti menjadi Djalan Tjiditiro.
panjang landhuis di Land Menteng secara singkat, land subur yang telah
bertransformasi menjadi Perumahan Elite di Menteng.










