Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Jakarta (36): Sejarah Salemba, Struiswijk, Pabrik Opium dan STOVIA; Kini Jalan Salemba Raya No. 4 Jakarta

Tempo Doelo by Tempo Doelo
02.05.2019
Reading Time: 54 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Pabrik opium di Salemba
didirikan di atas persil lahan yang berada di lahan land Struiswijk. Pabrik ini
cukup besar. Dalam pembangunan pabrik opium ini jalan meenuju landhuis
tampaknya digeser sehingga terkesan tidak lurus pada masa ini. Dalam
pembangunan ini bangunan utama (Landhuis) terpaksa dibongkar. Yang tersisa dari
properti land ini ini hanya bangunan sekunder seperti bangunan pakerja dan
bangunan lainnya. Bangunan pekerja ini kira-kira persil lahan yang sekarang yang
di atasnya berdiri bangunan Lembaga Manajemen dan Lembaga Demografi (kini MAKSI)
dan gedung Smeo-biotrop hingga ke belakang ke arah sungai. Pada masa ini land
yang tersisa dari land Struiswijk ini identik dengan area FEUI yang sekarang.
  

Yang ditunjuk menjadi kepada
direktur pabrik opium adalah J. Haak Sehubungan dengan tugas baru itu,
fungsinya sebagai guru dalam bidang botani dan zoologi di Gimnasium Willem III
ditarik. Sebagai penggantinya adalah apoteker militer JW van Eek dari rumah
sakit militer di Weltevreden (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-06-1898).
Het nieuws van den dag voor Ned-Indie, 27-11-1902
Guru tetaplah guru,
opium juga tetap opium. Dalam hal ini, Gimnasium Koning Willem III (KW III)
adalah sekolah HBS (sekolah menengah umum) yang berlokasi tidak jauh dari
Struiswijk (kini SMA N 68 di Jalan Salemba Jakarta). Sekolah HBS ini didirikan
pada tahun 1860 yang merupakan HBS pertama yang didirikan di Hindia. Pada tahun
1911 HBS baru ada empat buah yakni selain KW III adalah HBS di Soerabaja (dibuka
1875); HBS di  Semarang (dibuka 1877) dan
Prins Hendrikschool te Batavia (PHS) yang dibuka pada tahun 1911.

Sementara itu, rumah
sakit militer berada di Weltevreden (masa ini dikenal sebagai RSPAD). Di rumah
sakit militer di Weltevreden ini juga terdapat sekolah kedokteran untuk pribumi
yang disebut Docter Djawa School. Sekolah dokter ini dibuka pada tahun 1851. Jumlah
siswa setiap angkatan di Docter Djawa School ini sekitar 10 sampai 12 siswa.
Siswa yang diterima adalah lulusan ELS. Pada tahun 1898 diantara siswa yang
diterima terdapat Abdul Hakim, Abdul Karim dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Abdul
Hakim dan Abdul Karim berasal dari Padang Sidempoean.
Het nieuws van den dag voor NI, 09-05-1912

Koning Willem III (KW III) adalah sekolah paling elit
di Hindia. Sekolah ini adalah sekolah HBS yang yang terdiri dari 3 tahun (MULO)
dan HBS 5 tahun (AMS). Lulusan HBS 5 tahun dapat melanjutkan perguruan tinggi
ke Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 tercatat sejumlah pribumi yang mengikuti
pendidikan di KW III (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-05-1912).
Beberapa diantaranya adalah Mas Djoko Soenarjo, W. Risakotta, Raden Mas
Soedewo, Mas Soemardjo, Aminoeddin Loebis, l. Harahap dan Raden Soekatjo. Pada
tahun 1919 setelah lulus MULO di Padang tercatat nama Mohamad Hatta yang melanjutkan
studi ke Prins Hendrik School te Batavia. Pada tahun 1922 Mohamad Hatta lulus
dari PHS (Afdeeling-A/IPS) dan melanjutkan studi ekonomi ke Belanda. Pada tahun
yang sama 1922 di PHS (Afdeeling-B/IPA) Ida Loemongga Nasution lulus dan
melanjutkan studi bidang kedokteran ke Belanda. Ida Loemongga setemat ELS
langsung ke PHS 5 tahun. Dr. Ida Loemongga adalah perempuan Indonesia pertama
bergelar doktor (Ph.D).

Namun dalam
perkembangannya JW van Eek yang diangkat menjadi direktur pabrik opium di
Salemba (lihat De Telegraaf, 28-03-1899). Disebutkan Apoteker militer AW van
Eek akan segera disediakan untuk direktur pabrik opium. Awalnya, Departemen
Perang keberatan dengan ahli kimia yang kompeten ini, yang juga sudah dipinjamkan
mengajar ke Gimnasium Willem III dan kini untuk meminjamkannya sepenuhnya kepada
departemen sipil, tetapi sekarang telah disesuaikan. Untuk pengganti van Eek sebagai
apoteker di Departemen Perang telah dipromosikan JG Mellink, apoteker militer
di Pontianak.
Korban opium (1860)

Pada fase percobaan sudah muncul
masalah. Diberitakan bahwa pabrik opium di Salembah telah terjadi pencurian
sekitar 200 tael opium yang sudah siap (lihat De locomotief: Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 12-06-1899). Catatan: satu tael setara 38 gram.
Sementara itu diberitakan dari Soerabaja bahwa Direktorat Opium untuk bulan
Jali 1899 di Residentie Soerabaja terjual sebanyak 9.230 tael seharga f.160.435
(lihat Soerabaijasch handelsblad, 04-08-1899).

Di Batavia tidak hanya
ada pabrik pembuatan opium di Salemba, juga sebelumnya sudah didirikan
Instituut Pasteur (lihat De Telegraaf, 01-11-1900). Dua lembaga ini seakan
bertolak belakang, yang satu memproduksi metode pembunuh dan yang lain justru
mencari penemuan baru untuk menyembuhkan. Seperti halnya lokasi Docter Djawa School,
Instituut Pasteur juga berada di rumah sakit di Weltevreden. Direktur pabrik
opium kini dijabat oleh J Haak.
Pabrik opium tahap pembangunan, 1899

Pabrik opium di Salemba,
Meester Cornelis sepenuhnya telah berjalan baik. Wartawan surat kabar Bataviaasch
nieuwsblad berkesempatan mengunjungi dan memberikan laporannnya pada edisi 21-02-1902
dengan judul Opium Fabriek ‘Pabrik opium pemerintah, di jalan besar dari Weltevreden
ke Meester-Cornelis. Kami diterima oleh direktur, setelah melewati gerbang,
kami melewati sebuah bangunan kecil yang menjadi tempat pemeriksaan para
pekerja masuk maupun meninggalkan pabrik. Setelah menanggalkan pakaian dan
menggantung pakaian mantel pada tempat nomor tetap, pekerja, dalam pelayanan
pabrik, berjalan dengan kostum lalu diperiksa dengan tangan terangkat melalui
gerbang berikutnya ruangan lain, dimana mantel lain diganti dengan nomor
pakaian pabrik. Dengan cara ini diharapkan dapat mencegah terjadinya
‘pencurian’ opium…’. Pabrik opium tahap pembangunan, 1899

Pabrik opium selesai dibangun, 1899

‘Selanjutnya kami
melalui ruang cuci dan pengeringan, dimana seorang pekerja sibuk membersihkan
dan merebus air di ruangan itu..
Di laboratorium tempat
pemimpin sekarang memimpin kami, di tempat yang bersih, dimana tes kimia dan
investigasi dilakukan, di ruangan yang lebih terang ini dengan sejumlah besar
instrumen, penimbang, tabung, retort dan labu memasak, dengan tungku panas
listrik tempat panci tembaga merah, sinar alfa bersinar dan berkilau dengan
cahaya baru, dijaga tetap baru dengan kemurnian superlatif. Pintu kaca mengarah
dari laboratorium ke pabrik yang berdekatan…
Dengan hati-hati kami
melewati banyak mesin, disini menghindari panci yang bercahaya, meninggalkan
roda gila yang besar dengan rasa takut, menampilkan pandangan menakutkan di
tempat lain di roda gigi, yang giginya yang kuat mencengkeram membuat rasa
bergidik..’. Pabrik opium selesai dibangun, 1899

Ruang instalasi pabrik
opium, 1900

Kami kemudian memasuki ruang penyimpanan opium mentah,
tempat ia ditumpuk menjadi bola..
sebagai
bahan baku untuk diproses lebih lanjut..opium mentah menebal dalam panci
tembaga dengan pemanasan uap dan menebal..
Setelah
penebalan yang dibutuhkan telah diperoleh, massa lengket dipindahkan ke panci
lain dan dipanggang di atas api arang. Proses pemurnian lebih lanjut mengikuti
perangkat yang telah kami sebutkan di atas..
dan
dari bahan baku kami secara bertahap melihat kotak-kotak kecil yang dimaksudkan
untuk menampung tabung berisi opium yang disiapkan…
Anda melihat hasil akhir yang rapi, Anda mendapatkan
gagasan besar tentang apa yang dapat dilakukan industri saat ini. Susunan
tabung Dalam kotak kecil dilakukan oleh anak laki-laki pribumi, yang melakukan
pekerjaan dengan tergesa-gesa gugup. Proses terakhir: mengisi, menutup rapat
dan menyegel tabung, dilakukan sepenuhnya secara mekanisɉ۪. Ruang instalasi pabrik
opium, 1900

Untuk meningkatkan dan
kelancaran distrubusi opium, pada tahun 1903 dibangun halte/stasion kereta api
langsung menuju pabrik opium (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-07-1903).
Disebutkan dalam pembebasan lahan pembangunan ruas jalur kereta api ini tidak
mudah sehingga pemerintah harus mengeluarkan resolusi. Pembebasan lahan
terutama jalur yang menuju ke Kemajoran dan Pisang Batoe. Jalur kereta api
Salemba ini menghubungkan jalur kereta api trans Batavia-Buitenmzorg (Tjikini)
dengan trans Batavia-Java (Paseban).
Halte/stasion Salemba dan Pabrik Opium (Peta 1903)

Pada Peta 1903, jalur kereta api
khusus Salemba ini ada beberapa hal yang dapat diperhatikan, yaitu: pertama,
jembatan kereta api di atas sungai Tjiliwong; kedua, halte/stasion yang tidak
jauh dari jembatan kereta api; ketiga, jalur khusus kereta api menuju pabrik opium.
Halte/stasion ini dapat diakses dari jalan raya (Salemba). Jalan akses ini
tampak telah bergeser jika dibabndingkan sebelum adanya pembangunan. Dari
halte/stasion ini dibangun rel yang menuju pabrik opium. Jika memperhatikan
posisi landhuis Struiswijk, tampak sebagian halaman landhuis digunakan untuk
rel kereta api. Dalam hal ini terlihat bahwa landhuis terkesan telah berubah arah
yang sebelumnya ke utara menjadi ke arah barat. Dengan kata lain, bangunan
pekerja dari landhuis ini, kini seakan berada di depan (menghadap ke stasion/halte Salemba).

Dalam perkembangannya
jalur kereta api ini terpaksa dibatasi karena pembangunan yang pesat di jalan Salemba
dan Paseban. Jalur kereta api via Paseban ditutup, sementara jalur kereta api
via Tjikini masih tetap difungsikan dari halte/stasion Salemba. Oleh karenanya,
halte.stasion Salemba tidak lagi untuk umum tetapi seakan-akan khusus untuk
pabrik opium.
Halte/stasion Salemba (Peta 1935)

Pada tahun 1914 muncul
gagasan perubahan spasial yang sangat drastis. Untuk mengatasi banjir di Weltevreden
dekat istana sungai Tjiliwong disodet di Manggarai dengan membangun kanal ke
arah barat menuju kanal Tanah Abang. Pembangunan kanal ini bersamaan dengan
pembangunan stasion kereta api di Manggarai. Lalu kemudian di Menteng akan
dibangun perumahan. Sehubungan dengan pembangunan perumahan ini, rel yang
melintas di area Menteng menuju Tanah Abang digeser menjadi sejajar dengan
kanal barat Manggarai. Dengan adanya stasion Manggarai (selesai tahun 1918) maka
stasion Pengangsaan ditutup dan stasion Boekit Doeri difungsikan sebagai dipo.
Setelah inilah kemudian jalur kereta api via Paseban ditutup. Sementara dari
halte/stasion Salemba via Tjikini tetap dipertahankan karena sudah adanya jalur
kereta api di Manggarai menuju stasion Meester Cornelis (kini Jarinegara) untuk
jurusan ke Jawa. Sebelumnya, jalur rel kereta api Salemba tidak hanya untuk
akses ke pabrik opium di Stuyswijk, tetapi juga diproyeksikan untuk lintasan dari
jalur kereta api Meester Cornelis ke stasion Tanah Abang (via area Menteng).
Seperti disebut di atas, jalur via Menteng ini digeser ke sisi kanal barat di
Manggarai karena adanya pembangunan perumahan elit di Menteng.

STOVIA
dan CB
Z

Pada tahun 1902 dimuai
pembangunan gedung STOVIA di Weltevreden (kini RSPAD). Gedung ini dibuat baru
di sisi selatan rumah sakit. Gedung STOVIA ini dibangun jauh lebih besar dari
gedung sekolah kedokteran Docter Djawa School. Dalam pembangunan gedung STOVIA
ini, gedung Docter Djawa School harus dibongkar dan di atasnya dibangun gedung
rekreasi dan gedung asrama bagi mahasiswa.
Posisi gedung STOVIA di Weltevreden

Docter Djawa School dibuka tahun
1851. Pada tahun 1854 dua siswa dari Afdeeling (kabupaten) Mandailing dan
Angkola (Residentie Tapanoeli) diterima untuk mengikuti pendidikan. Jumlah
siswa pada saat itu baru berkisar antara delapan dan 10 orang. Dua siswa asal
Afdeeling Mandailing en Angkola (menjadi Afdeeling Padang Sidempoean) adalah
siswa pertama yang diterima dari luar Jawa. Dua siswa tersebut bernama Si Asta
dari onderfadeeling (kecamatan) Mandailing dan Si Angan dari onderfadeeling
(kecamatan) Angkola. Sejak itu secara reguler siswa dari Afdeeling Mandailing
en Angkola. Dua siswa yang diterima asal Mandailing en Angkola tahun 1898 adalah
Abdul Hakim dan Abdul Karim (satu kelas dengan Tjipto Mangoenkosoemo). Siswa-siswa
yang lulus tahun 1902 dan mendapat gelar dokter diantaranya Mohamad Hamzah
Harahap dan Haroen Al Rasjid Nasution. Pada tahun 1905 Abdul Hakim, Abdul Karim
dan Tjipto Mangoenkosoemo lulus bersamaan dan mendapat gelar dokter.

Pada bulan Mei 1908 di
gedung STOVIA yang baru ini, Raden Soetomo dan kawan-kawan, mahasiswa asal Jawa
mendirikan organisasi kebangsaan yang disebut Boedi Oetomo. Organisasi
kebangsaan yang pertama didirikan di Padang tahun 1900 yang digagas oleh Saleh
Harahap gelar Dja Endar Moeda. Organisasi pertama ini disebut Medan Perdamaian
memiliki visi dan misi nasional. Pada tahun 1902 Medan Perdamaian membantu
peningkatan pendidikan di Semarang sebesar f14.000.
Dja Endar Moeda adalah pensiunan
guru telah membuka sekolah swasta di Padang sejak 1895. Pada tahun 1900 Dja
Endar Moeda mengakuisisi surat kabar dan percetakan Pertja Barat. Dja Endar Moeda
adalah alumni sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempoean tahun 1884.  
Dalam kongres pertama
Boedi Oetomo tanggal 3-5 Oktober 1908 di Jogjakarta Boedi Oetomo dikooptasi
oleh golongan senior dan kemudian berubah haluan dan visi misibnya hanya
bersifat kedaerahan (Jawa dan Madoera). Mahasiswa STOVIA, Soetomo dan
kawan-kawan kecewa. Boedi Oetomo lalu didominasi oleh oleh golongan senior
yakni para pangeran dan bupati. Namun kekecewaan Soetomo dkk disikapi oleh Soetan
Casajangan di Belanda dan menggagas organisasi mahasiswa Indonesia.
Gedung STOVIA di Weltevreden, 1902

Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan mengundang semua mahasiswa pribumi asal Hindia (baca: Indonesia) di
tempat kosnya di Harlem. Hasil keputusan  rapat disetujui mendirikan organisasi
mahasiswa berhaluan nasional dengan nama Indische Vereeniging. Lalu para
anggota rapat secara aklamasi menunjuk Soetan Casajangan sebagai Presiden
(ketua). Soetan Casajangan adalah seorang guru yang melanjutkan studi sarjana
pendidikan ke Belanda tahun 1905. Soetan Casajangan adalah alumni sekolah guru
(kweekschool) di Padang Sidempoean tahun 1887. Soetan Casajangan adalah adik
kelas Dja Endar Moeda.

Pada tahun 1911 Soetomo
lulus di STOVIA dan mendapat gelar sarjana kedokteran dan kemudian diangkat
sebagai dokter pemerintah. Pada tahun 1911 juga di Belanda Soetan Casajangan
lulus dan mendapat gelar sarjana pendidikan. Dr. Soetomo pada tahun 1912
dipindahkan dari Semarang ke Tandjoeng Moerawa, Deli. Mr. Soetan Casajangan
pada tahun 1913 pulang ke tanah air dan kemudian diangkat menjadi direktur
kweekschool di Fort de Kock. Pada tahun 1914 Dr. Soetomo dipindahkan lagi dari
Deli ke Jawa.
Dr. Soetomo setelah tiba di Batavia
hatinya pilu dan sedikit marah. Dr. Soetomo merasa perlu berbicara di tengah
anggota Boedi Oetomo. Satu-satunya cabang Boedi Oetomo yang dipimpin oleh orang
muda adalah Boedi Oetomo cabang Batavia yang dipimpin oleh alumni STOVIA yakni
Sardjito (kelak lebih dikenal sebagai Rektor UGM yang pertama). Lalu Boedi
Oetomo cabang Batavia mengadakan rapat umum (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-07-1914).
Rapat publik ini diadakan di gedung Boedi Oetomo di Gang Kwinie 3 yang mana
tema yang dibicarakan Dr. Soetomo tentang kontrak kuli di Deli.
Dalam rapat publik di Boedi Oetomo
cabang Batavia Dr. Soetomo dalam pidatonya berapi-api. Dr. Soetomo menyatakan:
‘Kita tidak bisa hidup sendiri’. Dr. Soetomo melanjutkan, ‘Kita tidak bisa
hidup sendiri, bangsa kita Jawa tidak bisa terkungkung, kuli-kuli asal Jawa
sangat menderita di Deli atas perlakukan yang tidak adil dari para planter
pengusaha perkebunan asing’. Dr. Soetomo melanjutkan: ‘Banyak orang Tapanoeli
yang pintar, mereka ada dimana-mana…kita tidak bisa hidup sendiri lagi’.
Dr. Soetomo sudah lama tidak
terlibat secara langsung dengan Boedi Oetomo. Setelah pulang dari Deli dan
setelah berpidato di rapat publik di Batavia, Dr. Soetomo diketahui kembali
aktif di Boedi Oetomo. Dr. Soetomo merasa perlu aktif di organisasi untuk memperjuangkan
banyak permasalahan yang dirasakannya termasuk permasalahan koeli asal Jawa di
Deli. Seperti tampak dalam kepengurusan baru Boedi Oetomo pada kongres di Solo,
Dr. Soetomo menjadi salah satu anggota dewan pusat Boedi Oetomo (De
Preanger-bode, 08-08-1915).
Kurikulum di STOVIA sejak
1913 ditingkatkan. Kurikulum STOVIA diarahkan untuk mengikuti program studi
kedokteran di Belanda. STOVIA yang sebelumnya hanya dikhususkan untuk pribumi,
dengan perubahan kurikulum ini dimungkinkan orang-orang Belanda dan Tionghoa.
Sementara itu pada tahun 1913 di Soerabaja didirikan sekolah kedokteran umum dengan
nama Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS). Sekolah kedokteran NIAS di
Soerabaja ini dikhususkan untuk pribumi. Ini seakan NIAS adalah suksesi STOVIA.
Sedangkan STOVIA mengikuti kurikulum Eropa. Sehubungan dengan perubahan
kurikulum STOVIA ini, fasilitas STOVIA juga ditingkatkan dengan merencanakan
gedung perkuliahan dan laboratorium yang lebih baik. Kaitan STOVIA dengan rumah
sakit militer di Weltevreden mulai dipisahkan sebagai institusi yang lebih
mandiri. Akibatnya gedung STOVIA harus dibangun tersendiri oleh pemerintah.
Pilihan lokasi diputuskan dengan membangun gedung STOVIA yang baru di
Struiswijk (di sebelah pabrik opium). Pembangunannya dimulai pada tahun 1920.
Tahap pembangunan gedung STOVIA di Struiswijk, 1920

Gedung STOVIA yang baru di
Struiswijk sangat besar dan mewah. Jauh lebih mewah jika dibandingkan dengan
gedung pabrik opium. Lokasi gedung STOVIA ini berada di land Struiswijk. Pada
masa ini gedung STOVIA adalah gedung FKUI yang lama di Salemba (FKUI sendiri sepenuhnya
telah pindah ke Depok). Foto 1920 ini menunjukkan gedung STOVIA dalam tahan
pembangunan (finishing). Secara visul bentuk gedung yang mulai dibangun sejak
tahun 1918 ini masih terlihat asli pada masa ini.  

Sehubungan dengan
pemisahan STOVIA dan rumah sakit militer di Weltevreden, pemerintah juga mulai
membangun rumah sakit sipil. Rumah sakit sipil ini disebut Centrale Burgerlijke
Ziekeninrichting (CBZ). Pembangunan rumah sakit sipil ini dimulai pada tahun
1921. Lokasi yang dipilih adalah dekat dengan gedung STOVIA yang baru. Lahan
yang digunakan untuk rumah sakit CBZ berada di belakang STOVIA tetapi mengambil
posisi arahnya ke timur. Bersamaan dengan pembangunan rumah sakit CBZ ini
dibangun jalan baru yang kini disebut Jalan Diponegoro.
Tahap pembangunan gedung rumah sakit CBZ, 1921

Dengan dibangunnya rumah sakit CBZ,
habis sudah land Struiswijk dikapling menjadi empat bagian. Kapling pertama
dibangun pabrik opium. Kapling kedua dibangun STOVIA. Kapling ketiha dibangun
rumah sakit CBZ. Kapling yang tersisa adalah sisa land Struiswijk yang berada
di dekat stasion/halte Salemba. Foto yang dibuat tahun 1921 ini menunjukkan
rumah sakit CBZ dalam tahap pembangunan.

Pada tahun 1927 STOVIA
ditingkatkan menjadi perguruan tinggi kedokteran Geneeskundige Hooge School
(GHS). Dengan peningkatan status menjadi perguruan tinggi maka lulusan sudah
setara dengan lulusan dari Eropa/Belanda. Sebelumnya lulusan STOVIA untuk
mendapatkan akta dokter penuh (setara Eropa/Belanda) harus melanjutkan studi ke
Belanda. Dr. Soetomo berangkat studi ke Belanda pada tahun 1919 bersama Dr.
Sardjito dan Dr. Mohamad Sjaaf. Setelah selesai studi, Dr. Soetomo kembali ke
tanah air pada tahun 1923.
Dr. Sardjito dan Dr. Mohamad Sjaaf
setelah selesai studi kedokteran tidak langsung pulang ke tanah air. Keduanya
melanjutkan studi ke tingkat doktoral untuk meraih gelar doktor (Ph.D). Hingga
tahun 1933 jumlah orang Indonesia yang meraih gelar doktor (Ph.D) di luar
negeri baru sebanyak 26 orang dan hanya satu orang perempuan yakni Ida
Loemongga Nasution. Orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor (Ph.D)
adalah Husein Djajadiningrat pada tahun 1913. Daftar orang Indonesia peraih
gelar doktor (Ph.D) selanjutnya adalah sebagai berikut: (2) Dr. Sarwono (medis,
1919); (3) Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922); (4) RM Koesoema Atmadja (hukum
1922); (5) Dr. Sardjito (medis, 1923); (5) Dr. Mohamad Sjaaf (medis, 1923); (7)
R Soegondo (hukum 1923); (8) JA Latumeten (medis, 1924); (9) Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi
(hukum, 1925); (10) R. Soesilo (medis, 1925); (11) HJD Apituley (medis, 1925);
(12) Soebroto (hukum, 1925); (13) Samsi Sastrawidagda (ekonomi, 1925); (14)
Poerbatjaraka (sastra, 1926); (15) Achmad
Mochtar
(medis, 1927); (16) Soepomo (hukum, 1927); (17) AB Andu (medis,
1928); (18) T Mansoer (medis, 1928);
(19) RM Saleh Mangoendihardjo (medis, 1928); (20) MH Soeleiman (medis, 1929);
(21) M. Antariksa (medis, 1930); (22) Sjoeib
Proehoeman
(medis, 1930); (23) Aminoedin
Pohan
(medis, 1931); (24) Seno Sastroamidjojo (medis, 1930); (25) Ida Loemongga Nasution (medis, 1931);
(26) Todoeng Harahap gelar Soetan
Goenoeng Moelia
(sastra dan filsafat, 1933). Jumlah doktor terbanyak
berasal dari (pulau) Djawa, yang kedua dari Residentie Tapanoeli. Cetak tebal
adalah doktor-doktor asal Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean, Residentie
Tapanoeli.
PPPKI di Jalan Kenari
Pada tahun 1927 Parada
Harahap, sekretaris organisasi kebangsaan Sumatranen Bond menggagas dibentuknya
himpunan semua organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu pada bulan September 1927
di rumah Husein Djajadiningrat berkumpul para pemimpin organisasi kebangsaan.
Hasil keputusan mendirikan organisasi yang disebut Permoefakatan
Perhimpoenan-Perhimponenan Kebangsaan Indonesia, disingkat PPPKI. Keputusan
lainnya menetapkan MH Thamrin sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai
sekretaris.
Gedung opium dan gedung PPPKI, 1930

Tugas pertama pengurus PPPKI
adalah membangun gedung/kantor PPPKI. MH Thamrin menyediakan lahannya untuk
tempat pertapakan bangunan. Sedangkan Parada Harahap menggalang dana untuk
pembangunan gedung. Parada Harahap sendiri adalah ketua pengusaha pribumi di
Batavia (semacam Kadin pada masa ini). Yang dijadikan sebagai organ PPPKI adalah
surat kabar Bintang Timoer (milik Parada Harahap). Gedung/kantor PPPKI tersebut
akhirnya segera terwujud. Dengan adanya gedung/kantor, kegiatan PPPKI menjadi
lebih mudah dilaksanakan.

Jembatan di atas Tjiliwong dan halte/stasion kereta api, 1930

Parada Harahap pada tahun 1918
membongkar kasus kekejaman terhadap kuli asal Jawa di perkebunan di Deli.
Laporannnya dikirimkan ke surat kabar Benih Merdeka di Medan. Berita itu menjadi
heboh dan cepat menyebar. Boleh jadi mendengar ini Dr. Soetomo sumringah. Parada
Harahap yang menjabat sebagai krani di sebuah perkebunan di Deli akhirnya
dipecat. Lalu Parada Harahap hijrah ke Medan dan menjadi editor Benih Merdeka.
Oleh karena Benih Merdeka dibreidel, Parada Harahap pulang kampung mendirikan
surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919. Setelah beberapa
kali terkena delik pers dan beberapa kali dipenjara akhirnya Parada Harahap
hijrah ke Batavia tahun 1923. Di Batavia Parada Harahap mendirikan surat kabar
Bintang Hindia dan pada tahun 1925 mendirikan kantor berita Alpena dengan merekrut
WR Supratman sebagai editornya. Pada tahun 1926 Parada Harahap mendirikan satu
lagi surat kabar yang lebih radikal Bintang Timoer. Ke surat kabar ini Ir. Soekarno
dari Bandoeng kerap mengirim tulisan.  

Gedung/kantor PPPKI tersebut
berada di Gang Kenari. Gedung/kantor ini tidak jauh dari halte/stasion Salemba.
Di gedung/kantor ini, sebagai kepala kantor, Parada Harahap memajang tiga foto,
dua diantaranya Ir. Soekarno dan Mohamad Hatta. Parada Harahap semakin mengenal
Ir. Soekarno selain sering menerima dan memuat tulisannya, Ir. Soekarno juga
turut hadir dalam rapat pembentukan PPPKI sebagai ketua (Perhimpoenan Nasional
Indonesia). Mohamad Hatta sudah dikenal Parada Harahap dalam dua kali kongres
Sumatranen Bondi di Padang (1919 dan 1921). Pembina dua kongres tersebut adalah
Dr. Abdul Hakim Nasution, anggota dewan kota Padang yang dulu pernah sekelas
dengan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo.
Sejak 1926 Mohamad Hatta adalah
ketua Perhimpoenan Indonesia di Belanda. Perhimpunan ini sebelumnya bernama
Indische Vereeniging yang tahun 1908 digagas oleh Soetan Casajangan. Pengurus
Indische Vereeniging tahun 1908 Soetan Casajangan sebagai ketua dan Husein
Djajadiningrat sebagai sekretaris. Parada Harahap ketika memimpin surat kabar
Sinar Merdeka di Padang Sidempoean juga menjadi editor surat kabar mingguan
Poestaha (yang didirikan Soetan Casajangan pada tahun 1915). Parada Harahap
terkesan ingin merealisasikan konsep Indonesia.
PPPKI di Gang Kenari
telah menjadi pusat pergerakan politik, pusat perjuangan bangsa dalam
menghadapi ketidakadilan. Salah satu agenda penting PPPKI tahun 1928 adalah mengadakan
Kongres PPPKI bulan September 1928 yang diintegrasikan dengan Kongres Pemuda
pada bulan Oktober 1928. Ketua panitia Kongres PPPKI ditunjuk Dr. Soetomo.
Sedangkan panitia Kongres Pemuda dibentuk yang terdiri dari ketua Soegondo,
sekretaris Mohamad Jamin dan bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap. Ketiganya
adalah mahasiswa Rechthogeschool yang mana dekannya adalah Prof. Husein
Djajadiningrat. Soegondo adalah kader dari Dr. Soetomo; sementara Mohamad Jamin
dan Amir Sjarifoeddin Harahap adalah kader dari Parada Harahap. Untuk
mensukseskan dua hajatan besar ini Parada Harahap menerbitkan Bintang Timoer edisi
Semarang (untuk wilayah Midden Java) dan edisi Soerabaja (untuk Oost Java).
Hasil keputusan Kongres PPPKI adalah
mensosialisasikan organisasi kebangsaan menjadi organisasi politik. Organisasi
politik pertama adalah Perhimpoenan Nasional Indonesia pimpinan Ir. Soekarno
menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Hasil keputusan lain adalah mengangkat
Dr. Soetomo menjadi Ketua PPPKI (periode 1928/1929). Hasil Kongres Pemuda
adalah persatuan Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia.
Dalam Kongres Pemuda ini diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman
(editor kantor berita Alpena pimpinan Parada Harahap).
Gedung/kantor PPPKI yang
kemudian juga dikenal sebagai Gedung Nasional telah menjadi tempat rapat-rapat
umum, apakah rapat umum yang diselenggarakan PPPKI maupun organisasi kebangsaan.
Gedung/kantor PPPKI juga menjadi kantor PPPI (Pers
atoean Peladjar-Peladjar Indonesia).
Struiswijk satu abad kemudian (Foto udara 1943)

Sebelum berakhirnya era kolonial
Belanda, jelang kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, area yang dulu disebut
Struiswijk terlihat dari (foto) udara semakin ramai dan padat (foto udara tahun
1943). Rumah Sakit CBZ semakin luas. Satu yang penting jembatan di atas sungai
Tjiliwong telah dibangun sebelum tahun 1930. Demikian juga jembatan
penyeberangan dari belakang rumah sakit CBZ sudah dibangunn untuk memudahkan
akses dari Kampong Tjikini. Ini dapat dilihat pada foto udara yang dibuat pada
tahun 1930.

Land yang dulu dimiliki
keluarga Struys telah berkembang menjadi lingkungan Eropa/Belanda yang disebut
Struiswijk. Land yang subur ini telah silih berganti pemiliknya. Intervensi
pemerintah di land ini dimulai pada tahun 1899 ketika pemerintah membeli persil
lahan untuk membangun pabrik opium. Pemerintah kemudian membeli persil lahan
untuk membangunan kampus STOVIA dan rumah sakit CBZ.
Sisa bangunan di Landhuis Struyswijk (Foto 1920)

Bagaimana sisa lahan di land Struys
ini dan kapan dilakukan akuisisi oleh pemerintah tidak diketahui secara pasti. Sisa lahan itu
kini menjadi area FEUI. Salah satu bangunan di lokasi area FEUI ini pada tahun
1991 menjadi tempat kerja saya sebagai peneliti d/a Jalan Salemba Raya No. 4
Jakarta. Salah satu foto yang dibuat pada tahun 1920 mengindikasikan salah satu
sisa bangunan di sekitar landhuis Struyswijk adalah bangunan para pekerja.
Bangunan ini menghadap ke bagian belakang pabrik opium dimana di halamannya
terlihat lintasan rel kereta api dari halte/stasion Salemba (dekat sungai Tjiliwong) menuju pabrik opium. Pada
eks bangunan ini kemudian dibuat bangunan baru yang dulu menjadi ruang
perkuliahan dan pada tahun-tahun belakangan ini dibongkar dan kemudian di atas
lahan ini dibangun gedung Lembaga Manajemen FEUI. Gedung UI Press yang
sekarang, dulunya adalah lintasan kereta api dari halte/stasion Salemba ke pabrik
opium.  

Lembaga
Eijkma
n

Docter Djawa School yang
didirikan tahun 1851 di rumah sakit militer Weltevreden (kini RSPA) telah
bertransformasi menjadi STOVIA dengan mendirikan kampus baru di Struiswijk pada
tahun 1920 STOVIA. Bersamaan dengan pembangunan kampus STOVIA ini juga dibangun
rumah sakit sipil CBZ. Rumah sakit ini berada di bawah kantor layanan medis
sipil atau Burgerloken Geneeskundigen Dienst (BGD).
Sebagaimana Docter Djawa School
didirikan di rumah sakit militer pada tahun 1851, pada tahun 1888 juga
didirikan laboratorium di rumah sakit militer di Weltevreden. Pembentukan
laboratorium ini sehubungan dengan permasalahan epidemik yang terjadi di
Hindia. Laboratorium ini disebut Laboratorium voor onderzoekingen op het gebied
van pathologische anatomie en bacteriologie (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-01-1888).
Disebutkan yang menjabat sebagai direktur laboratorium anatomi patologis dan
bakteriologi ini adalah Dr. C Eijkman. Selain laboratorium rumah sakit militer,
di Batavia juga muncul laboratorium swasta di bawah nama Instituut Pasteur.
Laboratorium rumah sakit militer inilah yang bedol desa ke Struiswijk menjadi
laboratorium sipil. Dalam perkembangannnya laboratorium Pasteur pindah ke
Bandoeng. Dua laboratorium ini saling melengkapi.
Untuk mendukung kinerja
BGD, pada tahun 1916 pemerintah mengangkat Dr. W. Schuffner sebagai Kepala
Inspektur Kesehatan Masyarakat (BVG). Dr. W. Schuffner masih bekerja sebagai
dokter di perusahaan perkebunan di Deli, Senembah Mij.
Pada tahun ini pula Dr. Achmad
Mochtar yang baru lulus STOVIA diangkat untuk membantu Dr. W. Schuffner di Deli
(Medan/Belawan), Tapanoeli (Taroetoeng, Padang Sidempoean dan Sibolga) serta
Palembang (Kajoeangoeng) dalam mengatasi malaria.
Sepulang dari penelitian
di Sumatra, pada tahun 1921 Dr. Achmad Mochtar ikut membantu Dr. W. Schuffner
merintis pusat penelitian pemerintah dengan membangun laboratorium di
Struiswijk (sebagian dari gedung rumah sakit CBZ).
Pada tahun 1923 Dr. Achmad Mochtar berangkat
studi ke Eropa (Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1923). Pada bulan Desember 1923 Dr.
W. Schuffner juga bverangkat cuti dua tahun ke Eropa.
Kerjasama antara Dr. W.
Schuffner dan Dr. Achmad Mochtar masih diteruskan di Belanda. Dalam pertemuan
ilmiah Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Prof. Schüffner, juga atas nama
Achmad Mochtar, menyajikan hasil pencobaan mereka untuk membuktikan ‘splitsing
van Leptospirenstammen’ (De Maasbode, 31-10-1926).
Dr. Achmad Mochtar akhirnya berhasil
mencapai gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran pada tahun 1927 (De
Telegraaf, 11-02-1927). Disebutkan desertasinya berjudul ‘Onderzoekingen
omtrent eenige leptosplrenstummen’. Tema desertasi Achmad Mochtar ini tampak
satu rumpun dengan topik penelitian yang dilakukan oleh Dr. Achmad Mochtar dan
Dr. W. Schuffner yang menjadi bidang perhatian mereka selama ini.
Setelah kembali ke tanah
air, Dr. Achmad Mochtar, Ph.D ditempatkan di rumah sakit CBZ. Pada tahun 1928
dipindahkan beberapa kali hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit CBZ di
Semarang pada tahun 1932. Dr. Achmad Mochtar, Ph.D juga menjadi kepala
laboratorium di Semarang. Setelah cukup lama di Semarang, Dr. Achmad Mochtar,
Ph.D dipindahkan ke Geneeskundig Laboratorium te Batavia pada bulan Mei 1937
yang juga diperbantukan di DVG dalam penanganan penyakit kusta (Het nieuws van
den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-05-1937).
Geneeskundig Laboratorium milik
pemerintah yang berada di Struiswijk adalah laboratorium yang dirintis oleh Dr.
W. Schuffner dan Dr. Achmad Mochtar sebagai kelanjutan dari laboratorium yang
berada di rumah sakit Weltevreden. Pada tahun 1937 sudah ada beberapa
laboratorium, selain di Batavia, juga di Semarang dan Soerabaja. Laboratorium
dari Instuute Pasteur di Batavia telah dipindahkan ke Bandoeng.
Pada tahun 1938 saat
ulang tahun pendirian laboratorium (sejak Eijkman tahun 1888) nama Geneeskundig
Laboratorium te Batavia diubah namanya menjadi Eijkman Instituut (lihat
Soerabaijasch handelsblad, 17-01-1938). Disebutkan hari Sabtu tanggal 15
Januari dirayakan 50 tahun fondasi yang kini menjadi laboratorium medis yang
turut dihadiri Dr. Bochardt, direktur CBZ dan Dr. Theunissen, kepala BGD dan
undangan lainnya.  Direktur laboratorium
Dr WK Merthens dalam pidato sambutan berterimakasih kepada pendahulu, direktur
pertama Dr. Eijkman yang kala itu masih di rumah sakit militer di Weltevreden.
Dengan pemberian label instituut maka dengan sendirinya terdapat dua lembaga
penelitian, yakni Pasteur Instituut di Bandoeng dan Eijkman Instituut di
Batavia.
Pada tahun 1938 untuk kali pertama
seorang apoteker ditambahkan ke Centrale Laboratorium (kini menjadi Eijkman
Instituut) yakni Ali Mochtar Lubis (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 03-02-1938). Ali Mochtar termasuk salah satu lulusan
perdana sekolah apoteker
(artsenubereidkunst) yang dibentuk
yang lulus tahun 1935 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,
01-08-1935). Setelah lulus Ali Mochtar Lubis bekerja di Firma Irmscheer sebelum
ditempatkan pemerintah di Eijkman Insituut.
Salah satu siswa yang diterima di
sekolah apoteker di Batavia ini tahun 1938 adalah Ismail Harahap. Lama studi
adalah dua tahun. Ismail Harahap lulus tahun 1940 (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940). Setelah
beberapa bulan bekerja di Batavia, Ismail Harahap ditempatkan pemerintah di
Soerabaja tahun 1941. Ismail Harahap lahir di Padang Sidempuan, kelak lebih
dikenal sebagai ayah dari Andalas Harahap gelar Datoe Oloan atau lebih dikenal
sebagai Ucok AKA (pionir musik rock Indonesia). 
Andalas Harahap lahir di Surabaya, 25 Mei 1943.
Pada tahun 1940 rumah
sakit kota Batavia CBZ dikonversi menjadi rumah sakit pendidikan (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 03-12-1940). Disebutkan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D menyatakan bahwa
pemerintah telah menyetujui rumah sakit CBZ menjadi rumah sakit pendidikan
(academisch ziekenhuis),
Rumah sakit pendidikan adalah rumah
sakit yang memiliki fungsi ganda selain fungsi utamanya untuk kesehatan
masyarakat juga berfungsi untuk melaksanakan bidang penelitian dan publikasi
ilmiah. Fungsi lainnya juga adalah untuk melatih para calon dokter. Dalam hal
ini rumah sakit CBZ diintegrasikan dengan sekolah kedokteran (Geneeskundige
Hogeschool).
Pada masa pendudukan
Jepang, lembaga penelitian ini dipimpin oleh Dr. Achmad Mochtar, Ph.D. Pada
tahun 1944 dikabarkan anak Dr. Achmad Mochtar, Ph.D meninggal dunia (Algemeen
Handelsblad, 23-02-1944). Disebutkan Baharsjah Mochtar kandidat dokter (Med.
Cand.) di Rijksuniversiteit di Leiden pada usia hampir 26 tahun meninggal
dunia. Kabar ini termuat dalam iklan berita duka atas nama Dr. A. Mochtar dan
Siti Hasnah (istri). Baharsjah Mochtar lahir di Padang Sidempoean tahun 1918.
Dr. Achmad Mochtar, Ph.D lahir di
Bondjol. Ayahnya adalah seorang guru di Bondjol yang berasal dari Mandailing,
Tapanoeli. Setelah menyelesaikan pendidikan ELS, Achmad Mochtar masuk STOVIA
tahun 1907. Seperti telah disebut di atas Achmad Mochtar lulus STOVIA tahun
1916 dan mendapat gelar dokter.
Satu lagi anak Dr. Achmad
Mochtar, Ph.D yang tengah berkuliah di Belanda adalah Imramsjah Ade Mochtar.
Seperti almarhum abangnya Baharsjah Mochtar, Imramsjah Ade Mochtar juga
mengambil studi kedokteran. Imramsjah Ade Mochtar adalah salah satu aktivis
Perhimpoenan Indonesia di Belanda.
Mingguan Perhimpunan Indonesia edisi Mei, 1945

Seperti halnya di Indonesia banyak
revolusioner anti Jepang diantaranya Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap yang saat
ini dipenjara di tahanan militer Jepang di Malang, mahasiswa-mahasiswa
Indonesia di Belanda juga sangat anti Jepang. Pada edisi 1 Mei 1945 edisi khusus
majalah mingguan Perhimpoenan Indonesia (Het Weekblad) ‘Indonesia’ menurunkan topik Jepang sebagai Fasis. Dalam
edisi ini ada empat penulis dua diantaranya FKN Harahap dan Imramsjah Ade
Mochtar. Tulisan Imramsjah Ade Mochtar berjudul Het Wang Ching
Wei-isme” in Indonesië: De samenwerking van de Indonesiërs mèt Japan.
Dalam tulisan ini IA Mochtar mengidentikkan Soekarno dan Mohamad Hatta sebagai
Wang Ching Wei yang ‘menjual; Tiongkok dan bekerjasama dengan
Jepang..perjuangan kita sebelum pendudukan Jepang untuk kemerdekaan yang
demokratis kini sebagian pejuang kita telah berkolaborasi dengan Jepang,
menyimpang dari garis perjuangan kita…kita tidak membutuhkan Belanda dan
Jepang, kita berjuang lewat PBB untuk menentukan nasib kita sendiri…Kita harus
mengutuk keras ‘Wang Ching Weisme’ dan begitu Indonesia medeka, yang
akan menjadi salah satu tugas pertama kita adalah untuk membersihkan negara
kita dari sisa-sisa militerisme Jepang ini. Sementara itu FKN Harahap menyoroti
bantuan Jepang yang diterima oleh sejumlah mahasiswa Indonesia di
Eropa/Belanda. FKN Harahap menyayangkan itu..kita harus tetap bertahan meski kita
sudah hampir tiga tahun tidak terhubung dengan keluarga di Indonesia…
Perhimpunan Indonesia menolak segala godaan yang datang
dari pihak Jepang yang datang kesini untuk menawarkan bantuan’.

Majalah Perhimpunan Indonesia edisi 15 Mei, 1945

FKN Harahap adalah Ketua
Perhimpunan Indonesia terakhir di Belanda (menggantikan Stjadjit). Berangkat
studi ke Belanda pada tahun 1938 (lihat Soerabaijahsch handelsblad 12-09-1938).
Imramsjah Ade Mochtar adalah kelahiran Padang Sidempoean, sementara FKN Harahap
adalah kelahiran Depok. FKN Harahap adalah pemain catur, pernah mengalahkan
juara catur Belanda Dr. Euwe pada tahun 1933. Perhimpunan Indonesia adalah
kelanjutan dari Indische Vereeniging yang digagas oleh Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan di Belanda pada tahun 1908. Jika tahun 1908 dipimpin oleh
anak Padang Sidempoean, kini di tahun 1945 dipimpin oleh anak Depok. Kebetulan
keduanya bermarga Harahap. Majalah Indonesia.

.

Daftar Ketua Perhimpunan Indonesia 1908-1945
Sebelum muncul anti
Jepang di Indonesia, mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda sudah menunjukkan
anti fasis. Mereka ini turut melawan Jerman yang saat itu Jerman menduduki Belanda.
Sebagaimana diketahui Jerman terhubung dengan Jepang dalam perang dunia kedua.
Dua pemimpin Indonesia di Belanda, Dr. Parlindoengan Lubis dan Sidartawan
ditangkap oleh intel/militer Jerman. Sidartawan (ketua Perhimpoenan Indonesia) dieksekusi
dan meninggal (lihat Algemeen Handelsblad, 08-12-1942). Sidartawan dieksekusi
pada bulan Oktober 1942 (lihat De geus onder studenten, 11-07-1944). Dr. Parlindoengan
Lubis setelah ditangkap kemudian ditahan di kamp konsentrasi Jerman/NAZI. Dalam
perkembangannya Dr. Parlindoengan Lubis berhasil melarikan diri dari kamp NAZI.

.

Het parool, 11-08-1945

FKN Harahap menulis sebuah manifesto yang dimuat pada
surat kabar Het parool, 11-08-1945 dengan judul Het tegenwoordig streven der
Indonesische beweging (Tujuan Gerakan Indonesia Hari Ini). Seperti diketahui
enam hari kemudian Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Manifesto FKN Harahap
ini berisi tentang maklumat kemerdekaaan Indonesia. Disebutkannya Indonesia
akan meraih kemerdekaan. Indonesia dan Belanda setara. FKN Harahap mengutip
pidato Ratu Wilhelmina di Kongres AS di Washington 7 Desember 1942, mengatakan
kepada forum seluruh dunia bahwa Indonesia masa depan seharusnya menjadi bagian
yang independen dan setara dari Kerajaan Belanda. FKN Harahap mengingkatkan
bahwa Orange dan Indonesia tidak memiliki ikatan seperti Orange dan Belanda,
dan lebih jauh lagi bahwa Indonesia tidak memiliki monarki yang dilambangkan
secara konstitusional..
Kami
sangat senang mengatakan bahwa Perhimpoenan Indonesia dapat menyebut
pekerjaannya sukses dalam hal ini dan bahwa lapisan besar rakyat Belanda diharapkan
juga berusaha keras untuk mencapai tujuan kami itu…
Karya Perhimpunan Indonesia. antara lain, pidato yang
disampaikan oleh Boerhanoedin, anggota Indonesia dari delegasi Belanda di San
Francisco pada tanggal 27 Juni, dimana ia mengatakan: ‘Setelah reformasi
politik yang diperlukan telah dilaksanakan, orang Indonesia akan mendapatkan
pemerintahan sendiri. Posisi subordinasi dari Orang Indonesia di negara mereka
sendiri dan dari Indonesia di Kerajaan Belanda tidak terpikirkan Saya sangat
senang bahwa pers Belanda dan juga Perhimpoenan Indonesia dengan jelas
menyatakan sudut pandang yang sama. Kami hanya ingin menambahkan kata lain
untuk semua ini. Belanda dan Indonesia lebih dari sebelumnya dalam sejarah
mereka di pusaran masyarakat..
Tanggal
7 Desember 1942 adalah tonggak sejarah Belanda. Semoga tanggal ini juga membawa
kami untuk waktu yang lama di pelabuhan/negara baru. FKN HARAHAP (Perhimpoenan
Indonesia). Catatan: Manifesto FKN Harahap ini semacam proklamasi di tengah masyarakat Belanda dan enam hari mendahului
isi proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan di tengah masyarakat Indonesia oleh Soekarno dan Mohamad Hatta di Jalan
Pegangsaan Timur, Jakarta 17 Agustus 1945.
 

Tidak lama kemudian di
Indonesia terjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sejumlah orang dieksekusi
oleh militer Jepang. Dr. Achmad Mochtar, Ph.D, ayah dari Imramsjah Ade Mochtar dieksekusi
mati oleh militer Jepang. Apakah ketidakberdayaan Soekarno dan Mohamad Hatta
menyebabkan Imramsjah Ade Mochtar menganalogikan mereka sebagai kelompok ‘Wang
Ching Wei-isme’? Entahlah.

Dalam daftar orang-orang yang
dieksekusi selama pendudukan Jepang oleh militer Jepang termasuk Dr. Achmad
Mochtar, Ph.D. Kabar eksekusi ini dilaporkan pada bulan November 1945.
Disebutkan Prof. Achmad Mochtar, dieksekusi pada umur 54 tahun pada tanggal 3
Juli 1945 (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te
Batavia, 03-11-1945).

Siti Hasnah, kelahiran Makassar
telah kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Anaknya Baharsjah Mochtar
meninggal bulan Februari 1944 Belanda, belum lama, pada bulan Juli 1945 suami
yang meninggal. Kini, Siti Hasnah hanya tinggal memiliki anak semata wayang Imramsjah
Ade Mochtar yang tengah studi ke Belanda. Imramsjah Ade Mochtar lahir di Padang
Sidempoean 4 Maret 1919. Pada tahun 1947 eksekusi almarhum Dr. Achmad Mochtar,
Ph.D disidangkan dengan menghadirkan saksi hidup Dr. Marzoeki yang diberitakan
oleh surat kabar Het dagblad.
Het dagblad…Dagbladpers te Batavia, 21-06-1947
Het dagblad : uitgave
van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 21-06-1947: ‘Dalam kasus Kenpei
Tai di Batavia, apa yang disebut sebagai kasus Serum disidangkan kemarin, yang
secara singkat merujuk pada kenyataan bahwa pada bulan Juni-Juli 1944 sekitar
100 romusha yang disuntikkan dengan vaksin kolera, disentry dan tipus semuanya
tiba-tiba mengalami gejala kram parah yang sama. dan segera meninggal. Saksi
pertama yang dihadirkan, Dr. Marzoeki, pada saat sebagai Kepala Dinas Kesehatan
Kota (BGD), mengatakan bagaimana dia telah memberikan beberapa dokter dan staf
perawat berdasarkan permintaan untuk membantu vaksinasi. Beberapa waktu
kemudian, ia sendiri dipanggil untuk memastikan kasus-kasus penyakit yang
disebutkan di atas. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata ada kasus tetanus
yang terjadi. Ketika ditanya oleh Presiden (pengadilan) bagaimana tetanus ini,
dan dalam skala besar, akan memberi pengaruh, saksi (Dr. Maszoeki) menyatakan: ‘Virulen
tetanus bacilli pasti telah tercemar di dalam vaksin. Menurut pendapat saya,
bukan tidak mungkin kesalahan disini terletak pada sumbernya, dalam hal ini Pasteur
Instituut. Mungkin saja ada kesalahan yang terjadi disana dan itu pasti terjadi
disini. Saksi lebih lanjut mengutip kasus serupa yang terjadi di Lubeck pada
tahun 1924, yang menyebabkan kesalahan oleh asisten laboratorium. Anak-anak
yang hidup dengan basil tuberkel divaksinasi, dan hasilnya banyak yang pingsan,
tetapi secara pribadi, selama 47 tahun ini, Saksi belum pernah mengalami hal
seperti ini’. Saksi (Dr, Marzoeki). tiba-tiba ditangkap setelah apa yang
terjadi pada bulan Oktober [1944] dan dituduh menjadi bagian dari sebuah aksi….
Mochtar (yang kemudian meninggal dalam tahanan, bersama dengan Dr. Soeleiman Siregar dan Dr.
Arif). Jepang telah melakukan kesalahan mengerikan dalam persiapan vaksin dan,
seperti biasa, ia (Jepang) membutuhkan kambing hitam kali ini untuk mengalihkan
perhatian dari dirinya sendiri akaibat kontrol yang tidak memadai yang ada
sejak pendudukan di Pasteur Instituut. Saksi (Dr. Marzoeki) disiksa setiap hari
selama 14 hari, kadang-kadang dua kali sehari. Setiap kali saya dipanggil saya
lebih dulu dipukul dan saat ingin bangkit lagi malahan dipukul kembali hingga
knock-out.
Presiden: ‘Oh, jadi itu sebagai
introgasi pembukaan!’
Saksi.: Iya. Setelah itu
saya diinterogasi. Kemudian saya diwawancarai. Saya kemudian dikors setelah
repertoar selesai selesai. Saya tidak sadarkan diri empat kali sebagai akibat
dari penyiksaan, satu kali sebagai akibat dari ditenggelamkan di dalam air’.

Saksi kemudian menjelaskan bagaimana dia dituduh,
antara lain, berbicara dengan bahasa Belanda dan telah mengeluarkan surat izin untuk
seorang wanita yang sakit parah untuk dikeluarkan dari kamp. Selain itu, ia
ingin menemui kepala Jepangnya, yang bukan seorang dokter, hanya bertugas di
bidang administrasi dan tidak di bidang medis, yang telah menimbulkan konflik
sebelum penangkapannya. Prof. Mochtar disekap di sel dekat dengannya. Saksi bisa
mendengar bagaimana dia (Prof. Mochtar) diinterogasi berulang-ulang selama sepanjang
siang dan malam. Pekikannya (Prof. Mochtar) dan korban lainnya bisa terdengar
di seluruh sel. mereka yang harus menjalani siksaan lutut di atas papan cuci
selama berjam-jam hanya bisa merangkak sesudahnya. Mereka tetap tidak sensitif
di kaki mereka selama berminggu-minggu. Jenis penyiksaan lainnya adalah
orang-orang diberi tahu bahwa ia (Prof. Mochtar) akan dihukum mati dan sekarang
harus menulis surat perpisahan kepada keluarganya. Akan tetapi surat itu tidak
pernah sampai ke keluarganya’.

Nieuwe courant, 23-06-1947
juga melaporkan sidang tersebut dengan judul ‘Proses Monster di Batavia Penganiayaan
Para Dokter’.
Disebutkan delapan dokter ditangkap
oleh Kempei Tai di Batavia pada waktu itu diantaranya Prof. Dr. Mochtar, Dr.
Siregar dan Dr. Arif. Selain kedelapan dokter itu kemudian juga ditangkap Dr.Marzoeki,
Kepala Dinas Kesehatan (BGD) di Batavia saat itu, yang kini didengar kesaksiannya
di pengadilan. Saksi (Dr. Marzoeki) mengatakan bahwa tuduhan terhadap staf saya
tidak benar dan menyebut anggapan itu konyol. Kesalahan dibuat pada serum
justru sangat mungkin karena selama perang kontrol di Pasteur Instituut di
Bandoeng sangat lemah.

Dr. Marzoeki naik dari
kelas dua ke kelas tiga tingkat persiapan tahuan 1911 (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Diduga Marzoeki diterima di STOVIA
tahun 1909. Marzoeki lulus dan mendapat gelar dokter pada tahun 1919 (Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1919). Setelah diangkat
menjadi dokter pemerintah ditempatkan ke Sawah Loento. Lalu pada tahun 1922
dipindahkan ke CBZ di Weltevreden (De Preanger-bode, 02-08-1922). Pada tahun
1923 dipindahkan ke Tanjong Pinang (De Preanger-bode, 19-05-1923). Tahun 1927 Dr
Marzoeki diketahui berdinas di Rangat, Indragiri (Bataviaasch nieuwsblad, 29-03-1927).
Beberapa tahun kemudian Dr. Marzkoeli berangkat studi ke Belanda. Pada tahun
1931 Dr. Marzoeki dinyatakan lulus ujian pertama di Leiden (Haagsche courant, 17-04-1931).
Dr. Marzoeki lulus dan mendapat gelar dokter lisensi Eropa/Belanda di Leiden (Algemeen
Handelsblad, 19-08-1932). Pada tanggal 21 September berangkat dari Amsterdam
pulang ke tanah air (Haagsche courant, 27-09-1932).

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Setelah semuanya telah lama berlalu, Imramsjah Ade Mochtar
akhirnya berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran tahun 1954.
Setelah kematian saudara kandung dan ayahnya, Imramsjah Ade Mochtar tidak patah
arang. Itulah karakter keluarga Mochtar yang diturunkan dari sang kakek bernama
Mochtar [Nasoetion], seorang guru asal Mandailing yang pernah bertugas di
Bondjol.

De Tijd: godsdienstig-staatkundig
dagblad, 19-06-1954: ‘Amsterdam, 18 Juni. Dipromosikan doctor pada bidang
kedokteran (di Universiteit Amstedam) dengan desertasi berjudul
‘Deuterophaemophilia (Christmas’ Ziekte), Imramsjah Ade Mochtar, lahir di
Padang Sidempuan’.

Pada era orde baru
(rezim Soeharto) Laboratorium Batavia (Laboratorium Eijkman) dihidupkan
kembali. Ini terkait dengan perekrutan BJ Habibie dari Jerman (menjadi Menteri
Ristek). Dalam arsitektur ristek ala Habibie kala itu termasuk di dalamnya Laboratorium
Batavia/Djakarta alias Laboratorium Eijkman. BJ Habibie kemudian merekrut
seorang dokter bereputasi internasional, peneliti utama di Australia untuk
diposisikan sebagai pemimpin Laboratorium Eijkman yakni Dr. Sangkot Marzoeki,
Ph.D.
Saat itu Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D adalah orang
Indonesia yang memiliki portofolio tertinggi di bidang penelitian kedokteran.
Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D lahir di Medan. Keluarga Marzoeki memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Wakil Presiden
Adam Malik (sama-sama satu marga Batubara) dan keluarga Soetan Pangoerabaan
Pane. Nenek Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D adalah adik dari Soetan Pangoerabaan
Pane (mantan guru dan sastrawan lokal terkenal di Mandailing dan Angkola).
Soetan Pangoerabaan Pane, lahir di Sipirok kelak lebih dikenal sebagai ayah
dari Sanoesi Pane dan Armijn Pane (sastrawan terkenal) serta ayah dari Lafran
Pane (pendiri HMI di Djogjakarta tahun 1947). Sanoesi Pane dan Armijn Pane
sendiri sejatinya pernah kuliah di STOVIA, karena lebih menyukai sastra seperti
ayahnya, dua bersaudara ini meninggalkan bidang kedokteran dan mulai menggeluti
bidang bahasa dan sastra. Selain Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D, juga BJ Habibie
membutuhkan peneliti-peneliti di bidang lain, antara lain: peneliti di bidang
tanaman pangan, Dr. Zainoeddin Harahap (peneliti padi); peneliti di bidang
tanaman keras Ir, Hasjroel Harahap (kemudian menjadi Menteri Kehutanan); dan
peneliti di bidang keuangan, alumni Belanda Dr. Arifin Siregar (kemudian
menjadi Gubernur BI dan Menteri Perdagangan).
Salah satu peneliti
terbaik di Eijkman Istitute (dulu Laboratorium 
Eijkman) adalah Dr. Alida Roswita Harahap, Ph.D.  Selain sebagai peneliti, Dr. Alida Roswita
Harahap, Ph.D juga sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Eijkman Istitute adalah garis continuum sejak Docter Djawa School
tahun 1854 yang mana siswa-siswa terbaik asal Afdeeling Mandailing dan Angkola
(Afdeeling Padang Sidempoean) selalu hadir.
Peta Struyswijk era jaman now (googlemap)
Last but not least: Di
kampus UI Salemba yang sekarang (Jalan Raya Salemba No. 4) masih terdapat sisa
bangunan lampau yakni eks pabrik opium menjadi ruang perkuliahan FEUI dan  Penerbit FEUI. Juga eks gedung STOVIA masih
tampak kokoh sebagai bagian dari kampus FKUI. Tentu saja eks gedung rumah sakit
CBZ dan Eijkman Instituut (kini RSUP Cipto Mangunkusumo) masih terlihat kuat.
Sisa era kereta api ruas Salemba jaman old (foto internet)

Satu situs lain yang tersisa dan kerap dilupakan
adalah jembatan kereta api di atas sungai Tjiliwong dan eks gedung PPPKI. Eks
jembatan ini masih digunakan masyarakat hingga ini hari, sementara eks gedung
PPPKI kini disebut Gedung MH Thamrin. Pada jadwal mengajar di kampus Salemba,
saya dari Depok sering melewati jembatan ini dari arah stasion Cikini melalui
pasar Cikini terus melewati jembatan kereta api di atas sungai Ciliwung dan
kemudian turun ke jalan Inspeksi lalu masuk melalui pintu gerbang belakang
FEUI.

Demikianlah sejarah land
yang subur di Struiswijk kali pertama teridentifikasi tahun 1820, yang kini
menjadi kampus UI Salemba dan rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Seperti
disebutkan di awal, saya paham betul setiap jengkal di area kampus UI, RS Cipto
dan Jalan Kenari ini yang tempo doeloe disebut Struyswijk. Semoga informasi
dapat membantu.
  

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja
.

ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post
Dari serakan hasil jepretan fotografer M. Alberts

RESEP KREATIF MEMBUAT KUE BIKA AMBON ENAK

Empat Serangkai pemimpin organisasi Pusat Tenaga Rakyat, 1943

Iklan

Recommended Stories

ANAK SHALIH MENINGGIKAN DERAJAT ORANG TUA

24.08.2018

Resep Ayam Goreng Masak Santan Bumbu Kencur

13.04.2016
Queen of Katwee

Queen of Katwee

28.07.2017

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?