Mayor Govert Knol menghiasi buku sejarah
kolonial di era VOC karena terbilang sukses di Jawa. Mayor Govert Knol memulai
ekspedisi dari Surabaya untuk menaklukkan wilayah pedalaman. Ekspedisi ini
dilakukan pada tahun 1706. Ekspedisi ini menandai awal koloni di Soerabaja. Benteng
Semarang selesai dibangun tahun 1708 dan pada tahun ini juga benteng Soerabaja
mulai dibangun.
![]() |
| Pos VOC di Soerabaja, 1695 |
Untuk memasuki wilayah pedalaman yang berpusat di Mataram
VOC mengawali ekspedisi yang dimulai dari benteng Missier, tiga jam perjalanan
dari Tegal. Ekspedisi ini dipimpin oleh Jacob Couper. Wilayah pedalaman ini
berhasil ditaklukkan pada tanggal 16 Desember 1681. Lalu benteng Missier
dibangun. Pada tahun 1695 dari benteng Missier dilakukan ekspedisi ke wilayah
Mataram. Dari peta ekspedisi rute yang dilalui dari Missier ke Semarang, Jepara
dan Cartosoera. Kemudian memutar ke selatan dan seterusnya ke Mataram lalu ke
barat ke Banjoemas dan kemudian ke utara hingga ke benteng Missier kembali.
Ekspedisi ini dilakukan setelah delapan tahun ekspedisi ke hulu sungai
Tjiliwong yang dilakukan tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio (dan kemudian
mendirikan Fort Padjadjaran). Salah satu hasil ekspedisi di Jawa ini adalah
penyerahan Semarang ke pihak VOC pada tahun 1705.
perdagangan yang selama ini berada di Demak dipindahkan ke (benteng) Semarang.
Berbagai kerjasama dan konflik permusuhan yang timbul setelah ekspedisi dari
benteng Missier dilanjutkan dengan ekspedisi dari (benteng) Semarang ke
Cartosoera. Ekspedisi ke Cartosoera ini dimulai tanggal 24 Oktober 1705 dibawah
pimpinan Herman de Wilde yang mengikuti rute Semarang, Oengaran, Toentang,
Salatiga, Cartosoera. Pada rute ini kemudian sejumlah benteng dibangun
sebagaimana didokumentasikan dalam Peta 1719.
Komandan Samarang yang bekerja untuk VOC. Penunjukan Knol sebagai Komandan
Semarang setelah terjadi penyerahan Semarang. Tugas utama Govert Knol dari
benteng Semarang adalah untuk menaklukkan Soerabaja ke pedalaman dengan memulai
ekspedisi dari Soerabaja pada tahun 1706.
Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang
digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi
karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.





