primadona baru di berbagai tempat di Indonesia, utamanya di kota-kota besar.
Namun, bagaimana tradisi ‘ngopi’ di Indonesia terus terjaga hingga ini hari
jarang yang membicarakannya. Perihal yang bisa menjelaskan tradisi ngopi itu
hanya bisa dijelaskan dengan menelusuri sejarah kopi itu sendiri. Artikel ini
coba menelusuri sejarah kopi Banaran, kopi yang diduga produksi pertama di
Semarang dan sekitarnya. Pada masa ini Banaran,
hanyalah sebuah dusun yang masuk Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Di
dusun ini terdapat pabrik kopi yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX
(Persero).
![]() |
| Banaran, 1947 (foto udara) |
Artikel
tentang kopi ini akan disandingkan dengan artikel-artikel saya sebelumnya tentang kopi
Mandailing, kopi Angkola, kopi Sipirok, kopi Buitenzorg dan kopi Preanger. Artikel ini juga akan menjadi bagian dari artikel-artikel saya yang terdapat dalam Sejarah Kota Medan (baru 57 artikel),
Sejarah Kota Padang 48 artikel, Sejarah Jakarta
(16 artikel), Sejarah Bogor 23 artikel, Sejarah Kota Depok 43
artikel dan Sejarah Bandung 39 artikel. Tentu saja Sejarah
Surabaya 9 artikel dan Sejarah Padang Sidempuan 21 artikel (menyusul Sejarah Makassar, Sejarah Singapura dan Sejarah Kuala Lumpur).
Desa
Banaram: Perkebunan Pertama di Semarang. 1864
teridentifikasi pada tahun 1825 ketika ekspedisi militer Belanda memasuki
pedalaman Jawa. Pasukan Jawa yang ditemui pertama adalah yang berkumpul di desa
Bangin dan kemudian bertemu lagi dengan pasukan Jawa yang berkekuatan 300-400
orang di desa Banaran (lihat Bataviasche courant, 14-12-1825).
![]() |
| Banaran (Peta 1869) |
Ekspedisi
tahun 1825 ini adalah awal dari Perang Jawa, suatu pergerakan pasukan Belanda ke
pedalaman untuk membebaskan pusat Jawa di Jokjakarta dari pemberontakan yang
dilakukan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa berakhir pada tahun 1930 [setelah
Perang Jawa berlanjut ke Pantai Barat Sumatra: Perang
Bonjol di Padangsch Bovenlanden berakhir 1837 dan Perang Tambusai di Mandailing
dan Angkola berakhir 1838].
Banaran, tidaklah terlalu terkenal. Desa-desa yang lebih terkenal adalah desa
Ambarawa, desa Oengaran dan desa Salatiga yang kelak ketiga desa ini menjadi
kota. Desa Banaran tetaplah sebuah desa yang terpencil di ketinggian. Namun
demikian, desa Banaran ini begitu penting posisinya di antara tiga desa utama
lainnya karena kopi. Meski demikian, Desa
Banaran adalah suatu pasar di ketinggian yang ramai dikunjungi dari berbagai
penjuru (Javasche courant, 02-02-1828).
Dalam perkembangannya di Desa Banaran dibangun perkebunan kopi.
era VOC sebagaimana juga di Preanger. Ketika harga kopi mendapat apresiasi
harga tinggi di Eropa, van den Bosch mengubah koffiekultuur menjadi
koffiestelsen tahun 1830 di Buitenzorg dan Preanger. Koffiestelsel ini
diperluas ke Semarang (setelah Perang Jawa/Dipoenegoro berakhir). Koffiestelsel
juga kemudian diperluas ke Padangsch Bovenlanden dan ke Afdeeling Mandailing en
Angkola (1840).
![]() |
| De locomotief, 03-04-1868 |
tengah kebijakan sistem koffiestelsel muncul investor Eropa/Belanda untuk
membuka perkebunan di Buitenzorg dan kemudian menyusul di Semarang. Perkebunan
kopi pertama di Semarang terdapat di Desa Banaran. Perkebunan kopi Banaran
sudah beberapa tahun didirikan oleh Mc Neill & Co dengan administratur HL
Soesman. Pada tahun 1868 sebagian perkebunan ini dijual oleh pemiliknya (De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1868). Perkebunan
ini memiliki hamparan seluas 400 Bouws yang ditanami 693.750 batang pohon tua
(menghasilkan) dan 41.100 batang pohon muda [1 bouw = 7.096,5 meter persegi].
Perkebunan ini memiliki kontrak pembelian oleh pemerintah yang akan berakhir
pada panen tahun 1879. Hasil produksi perkebunan kopi ini diekspor ke Eropa.
Perusahaan Kopi Banaran ini terletak di District Ambarawa, Regentschap
Salatiga, Residentie Samarang.
![]() |
| Peta Semarang, 1719 |
Introduksi kopi
di Semarang yang dimulai pada era VOC paling tidak sudah terdeteksi tahun 1719
berdasarkan Peta Semarang 1719 dimana di lahan pekarangan Bupati Semarang
terdapat kebun kopi. Introduksi kopi Semarang ini tidak lama setelah introduksi
kopi pertama dilakukan di Batavia dan sekitar (Eerste koffij aan planting in de
omstreken van Batavia) pada tahun 1710 (lihat Almanak van Nederlandsch Indie
voor het jaar 1871). Orang yang pertama yang melakukan introduksi kopi itu
adalah Abraham van Riebeek, Gubernur Jenderal VOC yang diangkat tahun 1709.
Tanaman kopi dibawa dari Malabar (India) yang mana saat itu Abraham van Riebeek
sebagai Gubernur Jenderal VOC berhasil meredakan pemberontakan di Malabar
(sebagai wilayah koloni VOC/Belanda di India). Namun selagi menjabat Gubernur Jenderal VOC dan introduksi kopi baru dimulai Abraham van Riebeek
meninggal dunia tahun 1713 (setelah tiga tahun kopi diintroduksi di Batavia).
Namun yang jelas kopi sudah diperkenalkan di Batavai tetapi diduga belum sampai ke Bogor meski
wilayah Bogor sudah dikenal oleh Abraham van Riebeek (pada tahun 1703 Abraham
van Riebeek memimpin ekspedisi dari Batavia ke Bogor).
![]() |
| Perkebunan kopi [Banaran?] dekat Ambarawa, 1880 |
Pada tahun 1864 di
Semarang terdapat 25 persil perkebunan kopi swasta seluas 13.714 bouws yang
mana seluas 9.486 bouws telah ditanam dengan total 15 juta batang lebih (lihat
De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 10-10-1873). Ini
mengindikasikan perkebunan Banaran hanya sebagian kecil dari perkebunan yang
ada di Semarang dan sekitarnya. Selain perkebunan kopi swasta sudah sejak lama
terdapat penanaman kopi yang dilakukan penduduk yang dipimpin oleh para
pemimpin lokal seperti Bupati. Sistem penanaman kopi penduduk ini dikenal
sebagai koffiestelsel.
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.










