![]() |
| Abdoel Moeis (1916) |
Abdoel
Moeis lahir di Sungai Puar, Agam, 3 Juli 1883. Setelah tamat ELS, Abdoel Moeis melanjutkan
pendidikan ke Batavia di STOVIA. Oleh karena tidak berhasil menyelesaikan
pendidikannya, Abdoel Moeis memulai karir sebagai pegawai pemerintah di Bandoengsche
Afdeelingsbank di Bandoeng. Kemudian pada tahun 1911 dipindahkan menjadi Mantri
Loemboeng di Afdeeling Bandoeng (De Preanger-bode, 11-03-1911). Pada tahun
1913, Abdoel Moeis diketahui bekerja di surat kabar De Preanger-bode yang
terbit di Bandoeng sebagai corrector (De Preanger-bode, 01-01-1913).
Sarikat Islam membuka cabang di Bandoeng, Abdoel Moeis  ikut berpartisipasi yang duduk sebagai
sekretaris (lihat De Preanger-bode, 10-02-1913). Abdoel Moeis juga menjadi
editor mingguan Serikat Islam, yang menyuarakan misi Sarikat Islam. Dalam edisi
No. 2 terdapat tulisan dari Dr. Tjipto dan Soewardi (De Preanger-bode, 16-03-1913).
Dalam perkembangannya tiga orang komite SI ditangkap: Tjipto Mangoenkoesoemo
(di kantor redaksi majalah Expres), Suardi Surjaningrat dan Abdul Moeis (di kantor
administrasi Preanger Bode). Mereka ditangkap polisi karena alasan provokatif. Selain
juga Wigna di Sastra, hoofdredacteur van de Kaoem Moeda juga ditangkap (Bataviaasch
nieuwsblad, 31-07-1913).
![]() |
| Bataviaasch nieuwsblad, 31-07-1913 |
Sarikat Islam
adalah sarikat pribumi didirikan oleh Tjokroaminoto dan kawan-kawan di
Soerabaja (transformasi Sarikat Dagang Islam) ingin mencounter sarikat Boedi
Oetomo yang telah didirikan tahun 1908 (yang eksklusif bagi dirinya di Jawa). Pada
tahun 1908 mahasiswa-mahasiswa pribumi di Belanda yang dipimpin oleh Soetan
Casajangan coba mengcounter Boedi Oetomo yang dianggap kedaerahan dengan
mendidirikan Perhimpoenan Indonesia (Indsich Vereeniging/IV). Ide ini boleh
jadi di dalam pikiran Soetan Casajangan bahwa sarikat pribumi yang berbasis
nasional sudah didirikan oleh Dja Endar Moeda di Padang pada tahun 1900 yang
diberi nama Medan Perdamaian. Kini, Sarikat Islam yang memiliki cakupan seluruh
Hindia Belanda seakan mengikuti pakem IV (organisasi trans-nasional).
![]() |
| De Preanger-bode, 31-07-1913 |
Abdoel
Moeis dalam perkembangannya mendapat tekanan. De Preanger-bode, 31-07-1913 melaporkan empat anggota komite SI
tersebut yang ditangkap sebelum dilakukan pertemuan ‘besar’ di rumah Soewardi
kini telah terpecah: ‘Tjipto dan Suardi berada di dalam tahanan. Wigoja dan
Moeis yang sebelumnya ditahan dan setelah ditekan dilepaskan.. kita dapat
mengatakan dengan kepastian lebih dari Moeis, karena kita tahu dia sebagai
teman baik dari ras kita. Selanjutnya membuktikan mendengar bahwa yang terakhir
telah mengundurkan diri dari komite, dan karena itu tidak bertanggung jawab
tidak bisa bersatu’. Abdoel Moeis kembali ke pakem semula.
mulai digembosi, Boedi Oetomo mulai dianakemaskan oleh pemerintah melalui Dr.
Rinkes. Jong Javanen BO telah mendapat subsidi dan empat anggotanya telah
mendapat beasiswa untuk sekolah di Belanda. SI mulai ‘gigit jari karena iri’
melihat BO yang semakin ‘gemuk’ dengan asupan gizi yang lebih baik. Dewan
Eksekutif yang baru BO saat ini terdiri dari: R. Soetopo. R Soemarsono, R.
Ardiwinata, RM. Gondoatmodjo, R. Soerjo, R. Soepadmo dan R Soetomo. Pada ulang
tahun BO yang ketujuh kantor pusat BO yang baru telah didirikan dengan
sukacita.
suatu kesempatan pada ulang tahun ketujuh BO, Abdoel Moeis mengatakan bahwa selama
tujuh tahun BO, dimiliki oleh intellectuels Jawa, menurut undang-undang jelas
tetap mengecualikan warga Hindia Belanda lainnya (De Preanger-bode, 08-08-1915).
Bantuan berupa uang Pemerintah tak sedikit pun menyentuh Sumatera meski keramahan
yang tulus dari Sumatera untuk menampung tamu (transmigran) dari Jawa yang penuh
sesak pada tanah yang bersih (Lampong, Sumatera Tengah, Pantai timur Sumatera,
Aceh), yang pada intinya keinginan hanya kemajuan pulau Jawa dengan Jawanya.
Para pengurus manajemen pusat BO sekarang sudah saatnya istirahat dengan arah
konservatif seperti itu. Fakta bahwa itu bukan untuk melakukan hanya kemajuan
dengan Jawa saja, tetapi kemajuan Hindia Belanda dengan Boemi Poetra. Asosiasi BO
seperti yang didambakan.
Medan Perdamaian di Padang yang dipimpin oleh Dja Endar Moeda telah memberikan
bantuan untuk pendidikan di Semarang.
Didirikan di Belanda
Abdoel Moeis ini dapat dirasakan oleh seorang mahasiswa Sekolah Kedokteran
Hewan di Buitenzorg, bernama Sorip Tagor.
tahun 1916 Sorip Tagor melanjutkan sekolah ke Belanda. Mungkin Sorip Tagor
kecele, setelah Soetan Casajangan pulang ke tanah air tahun 1914, IV yang
dilihatnya di Belanda sudah tidak bergairah, Para pengurus IV tampaknya sudah
mulai ‘berkiblat’ ke BO di Jawa.
Casajangan setelah selesai studi bekerja di Belanda. Pada tahun 1914 Soetan
Casajangan pulang ke tanah air. Sebelum mendapat penempatan sebagai guru,
Soetan Casajangan mengajar di sekolah Eropa di Buitenzorg. Pada saat ini Soetan
Casajangan dan Sorip Tagor yang berbicara banyak hal. Pada tahun 1915 Soetan
Casajangan ditempatkan sebagai guru di Sekolah Radja di Fort de Kock. Â
tahun 1917, Sorip Tagor ‘berteriak’ dan menghimpun mahasiswa-mahasiswa asal
Sumatra untuk mendirikan Sumatranen Bond (untuk ‘melawan’, euphoria Jong
Javanen yang terus memuncak dengan sokongan pemerintah).
1917 di Batavia didirikan Sumatranen Bond oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA.
deskripsi lengkapnya
oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.








