*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pers dalam blog ini Klik Disini
Apakah ada hubungan pers Indonesia dan lagu
Indonesia Raya? Yang jelas ada. WR Soepratman adalah seorang jurnalis di
Batavia yang mencipta lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan dalam Kongres
Pemuda 1928, sementara Persatoean Djoernalis Indonesia (PERDI) yang diketuai
oleh Mohamad Tabrani disebut pernah memecat jurnalis yang tidak menghormati
lagu Indonesia Raya. Benarkah? Yang jelas Parada Harahap adalah salah satu
pendiri PERDI.

PERDI
Pecat Wartawan yang Tak Sikap Hormat ‘Indonesia Raya’. 14 Aug 2022.
Republika.id. WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raja terinspirasi pidato-pidato
di Kongres Pemuda 1926. Pidato yang menginspirasinya adalah pidato disampaikan
Tabrani (ketua panitia kongres). Menurut B Sularto dalam buku WR Supratman, bahwa
Supratman menyampaikan pujian isi pidato itu kepada Tabrani sekaligus memberi
tahu akan menuangkannya dalam lagu. Lagu “Indonesia Raya” itu kemudian
dibawakan di Kongres Pemuda 1928. Lirik lengkap tiga stanza untuk pertama kali
dimuat di koran dwimingguan milik PNI, Persatoean Indonesia, edisi 1 November
1928. Redaksi Persatoean Indonesia berjanji akan memuat lengkap dengan notasi
pada edisi 15 November 1928. Sin Po menerbitkan lirik dan not lagu “Indonesia
Raya” edisi 10 November 1928. Persatoean Indonesia edisi 15 November 1928 batal
menerbitkan not lagu tersebut. Pada edisi berikutnya, 1 Desember 1928, Persatoean
Indonesia menulis bahwa notasi lagu Indonesia Raya berikut liriknya telah
dicetak oleh WR Supratman dan dijual. Kelak, Persatoean Djoernalis Indonesia
(Perdi) semasa kepengurusan Tabrani pernah memecat anggotanya gara-gara sikap tidak
hormat lewat keputusan rapat di Semarang, Januari 1940. Tabrani terpilih
menjadi ketua pada Kongres Perdi di Solo April 1939. Ksiaha wartawan yang
dipecat itu bermula dari acara Parindra, saat lagu “Indonesia Raya”
dinyanyikan, wartawan itu tetap duduk santai di kursinya. Meski telah
diingatkan, bahkan, oleh rekan-rekan sesame Cina, Tuan J tetap duduk dengan
tenang di kursinya di meja pers. “Ini dianggap oleh Perdi sebagai kesalahan
serius,” tulis De Koerier edisi 13 Januari 1940 (https://www.republika.id/)
Lantas bagaimana sejarah organisasi Persatoean
Djoernalis Indonesia (PERDI)? Seperti disebut di atas ketua Kongres Pemuda I
adalah Mohamad Tabrani dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan dalam Kongres Pemuda
II. Ketua PERDI disebut pernah memecat anggota yang tidak menghormati lagu
Indonesia Raya. Lalu bagaimana sejarah organisasi Persatoean Djoernalis
Indonesia (PERDI)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Organisasi Persatoean Djoernalis Indonesia (PERDI); WR
Soepratman dan Lagu Indonesia Raya
Nama WR Soepratman paling tidak
diketahui pada awal tahun 1924 (lihat Overzicht van de Inlandsche en
Maleisisch-Chineesche pers, 1924, no 2, 08-01-1924). Disebutkan berdasarkan
surat kabar berbahasa Melayu Pemberita Makasser 12 Desember 1923 W. Rudolf
Soepratman berpendapat bahwa membaca, khususnya surat kabar, untuk kepentingan
kemajuan. Karena tidak semua orang mampu menanggung biaya pembelian bahan
bacaan yang bagus, maka ia menyusun rencana untuk mendirikan kelompok baca
(ruang baca) di Makasser. Setelah lama, WR Supratman diketahui sudah berada di Bendoeng.
Berdasarkan surat kabar Kaoem Kita edisi 2-7 Februari 1925 (lihat
Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 7,
12-02-1925) pada bagian Tajuk Rencana antara lain terdapat pengumuman bahwa WR
Soepratman, sehubungan dengan perluasan majalah ini, telah ditambahkan mulai
tanggal ini (2 Februari 25) adalah staf redaksi Kaoem-Kita sebagai wakil
pemimpin redaksi. Namun, tujuan dan arah dari Kaoem-Kita tidak akan berubah
dari Serekat Ra’jat’. Dalam edisi itu disebutkan WR Soepratman, wakil pemimpin
redaksi Kaoem Kita menuslis sebuah artikel dimana ia menunjukkan bahwa,
meskipun di negara ini, baik oleh Pribumi maupun oleh ras lain, beberapa surat
kabar diterbitkan, ia belum membaca satu surat kabar asli pun yang benar-benar
dapat disebut surat kabar, karena mereka ada sebagai organ dari satu pihak atau
lainnya dan akibatnya tidak mengungkapkan pendapat mereka secara langsung.
kemajuan rakyat, oleh karena itu Kaoem Kita mulai saat ini tidak hanya akan
mengedepankan suara salah satu pihak saja, tetapi segala sesuatu yang
berhubungan dengan kepentingan dan kemajuan kaum pribumi. Dalam edisi lainnya
sebuah artikel oleh WRS yang ditujukan untuk Indonesische Vereeniging
(Perhimpoenan Indonesia) di Belanda, yang menurutnya didirikan pada tahun 1908
oleh Soetan Casajangan dan yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada
rasnya sendiri dan untuk memajukan kemajuan mereka.
Tidak diketahui secara pasti kapan WR Supratman pindah
ke Bandoeng. Yang jelas di Bandoeng sejak 2 Februari 1925 telah menjadi wakil
redaktur majalah Kaoem Kita. Namun yang menarik bahwa WR Soepratman
mengingatkan bahwa Indonesische Vereeniging didirikan tahun 1909 oleh
[Radjieoen Harahap gelar] Soetan Casajangan yang bertujuan untuk memberi banru
dan memasjukan bangsa Indonesia. Berdasarkan Kaeom Kita edisi 11-16 Maret 1925
(lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 12,
19-03-1925) dimuat surat Edaran dari Pemimpin Redaksi E. Kartawirja, menyatakan
bahwa, karena dia saat ini terlalu sibuk dengan pekerjaan administrasi, dia
terpaksa mempercayakan pekerjaan redaksi majalah ini kepada A. Djajaningrat dan
WR Soepratman untuk sementara waktu.
Dari Kaoem Kita 14 hingga 23 April ’25 (lihat Overzicht van de Inlandsche
en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 19, 07-05-1925). Artikel Soepratman,
yang berisi keluhan tentang tidak dibayar oleh direktur kantor berita Pait,
khususnya Hendraningrat alias JH Soehario tentang gaji penulis selama dua bulan
dan uang jaminan yang dibayarkan olehnya sebesar f300. Penulis memperingatkan
semua orang terhadap tindakan kantor berita yang dilaporkan. Sebuah artikel
oleh WRS, dimana ia menyatakan bahwa ia menyesal bahwa begitu banyak kantor
berita telah didirikan disini di Hindia, seperti Pait di Bandung, Nicork di Cheribon,
Semsol di Semarang, Solpubu di Solo dan Pazs di Telok Betong, sedangkan orang
Eropa hanya memiliki kantor berita Aneta. Penulis mengatakan bahwa akan lebih
baik jika semua agensi pers pribumi itu dibuat menjadi satu agensi pers. Dia
juga berbicara tentang laporan lembaga ini dan mengatakan, antara lain, bahwa
dimana kantor berita Eropa/Belanda Aneta biasanya memberikan laporan tentang
Volksraad, konferensi kepala departemen, pertemuan dewan kota, dll., biro pers
pribumi hanya mendistribusikan laporan tentang pencurian ayam, dll. Akhirnya,
penulis mencatat bahwa pengelolaan seperti kantor biro pers pribumi biasanya
terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki sarana pendukung, yang tidak tahu
bagaimana mengambil posisi tertentu, yang tidak jujur, yang tidak memiliki
bakat yang diperlukan dan sebagainya’. De locomotief, 18-04-1925: ‘Agensi pers
berbahasa Melayu. Seorang koresponden memberitahu kami dari Batavia bahwa
sebuah kantor berita Alpena telah didirikan disana, yang akan menerima semua
kantor pers kecil di Hindia’. Overzicht van de Inlandsche en
Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 31, 29-01-1925: ‘Berdasarkan majalah
Soerapati edisi 11 dan 18 Juli 1925, sebuah artikel dari seorang penulis
berbicara tentang majalah Kaoem Kita yang menyatakan anntara lain, majalah ini
setiap saat berganti editor. Pertama diedit oleh Moeis, Daarjia kemudian Ajat
Djajaningrat, kemudian oleh Soepratman dan terakhir oleh S. Goenawan. Tapi yang
terakhir juga tidak tinggal lama disana dan dikatakan bahwa Kaoem Kita akan diedit
lagi oleh Moeis. Gunawan tentu saja tidak dapat bekerja dengan Moeis, pertama,
karena Moeis adalah anggota dewan rakyat. Kedua karena dia di Garoet, katanya,
dan ketiga karena dia sudah beberapa kali muncul di meja hijau sebagai pokrol
bambu. Lagi pula, jika semua ini tidak terjadi, Goenawan tidak akan mau bekerja
dengan Moeis, karena dia dikenal sebagai orang yang sutra putih. Namun dari
perubahan redaksional di atas sekarang tampak bahwa Kaoem Kita tidak memiliki
arah tertentu, sehingga lembaran ini terkadang menjadi putih kemudian kembali
merah dan karena itu hanya belum tampak hijau. Selama kertas itu tidak jatuh ke
tangan Partai Hijau (Sarekat Hedjo?)’.
WR Supratman kemudian diketahui
sudah berada di Batavia. Namun tidak diketahui sejak kapan? Bisa jadi WR
Supratman sudah berada di Batavia pada bulan April sehubungan dengan pendirian
kantor berita Alpena yang dipimpin oleh Parada Harahap.
Alpena didirikan Parada Harahap dari NV Bintang Hindia yang juga menjadi
pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia pada bulan April 1925. Parada
Harahap hijrah ke Batavia pada tahun 1922 setelah surat kabarnya Sinar Merdeka
di Padang Sidempoean tahun 1922 (didirikan Parada Harahap sejak 1919). Di
Batavia tahun 1923 Parada Harahap mendirikan surat kabar baru Bintang Hindia.
WR Soepratman tinggal di sebuah pavilium rumah Parada Harahap.
Namun yang jelas paling tidak
bulan Oktober 1925. WR Supratman telah di Batavia sebagai pemimpin redaksi
kantor berita Alpena. Ini diketahui dari berita surat kabar Hindia Baroe edisi
7 Oktober yang mana secara resmi telah dibentuk
organisasi pers Melayu-Cina pada tanggal 6 Oktober. Dalam berita ini
disebut WR Soperatman sebagai sekretaris (dari Alpena). Dalam kepengurusan ini
Parada Harahap (Bintang Hindia) sebagai salah satu pengawas.
Berdasarkan surat kabar Hindia Baroe edisi 2-7 Oktober 1925 (lihat
Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, no 41,
09-04-1925) bahwa Journalistenbond Asia diresmikan pada 6 Oktober, dan menurut
laporan di majalah ini, ketua terpilih pada pertemuan: Tabrani DI (Hindia
Baroe). wakil ketua: Kwee Kek Boeng (Sin Po), sekretaris: WR Soepratman
(Alpena), bendahara Boen Joe On (Perniagaan) dan RS Palindih (Berita). Anggota
Dewan Pengawas adalah: Parada Harahap (Bintang Hindia), Sing Yen Chen (Sin Po,
edisi Mandarin), Khoe Boen Sioe (Keng Po), Boe Giauw Tjoen (Sin Po) dan Achmad
Wongsosewojo (Sastra Rakjat), Kontribusi untuk pemimpin redaksi adalah f1,50,
editor f1 dan koresponden f 0.50 sebulan, sedangkan biaya masuk dua kali lipat.
Serikat pekerja juga telah dibentuk di Medan, sedangkan Parada Harahap akan
melakukan propaganda untuk afiliasi di Sumatera. Tentang pembentukan organisasi
ini sudah diberitakan sekitar satu bulan sebelumnya (lihat Deli courant,
02-09-1925).
Pada tahun 1926 di bawah
bendera NV Bintang Hindia menerbitkan satu surat kabar lagi yang diberi nama
Bintang Timoer. Ini bersamaan dengan terbit bukunya berjudul Dari Pantai ke
Pantai yang merupakan sari perjalanannya ke Sumatra dan Semenanjung. Parada
Harahap adalah seorang revolusioner dan sudah belasan kali dimejahijaukan dan
beberapa kali dibui di Padang Sidempoean. Lantas bagaimana Parada Harahap
menemukan WR Soepratman di Bandoeng. Besar dugaan WR Soepratman tidak sejalan
dengan haluan politik surat kabar Kaeom Kita di Bandoeng dan kemudian direkrut
oleh Parada Harahap untuk menggantikan posisinya di kantor berita Alpena.
Berdasarkan Hindia Baroe edisi 18-24 Maret 1926 (lihat Overzicht van de Inlandsche en
Maleisisch-Chineesche pers, 1926, no 13, 26-03-1926) WR Soepratman, dalam
artikelnya yang berjudul “bittere koek (kue pahit) menceritakan kebenaran
kepada teman sebangsanya sebagai respon dari artikel dalam Hoa Kiao di
Soerabaia, menjelaskan bahwa perdagangan Cina hanya spekulatif dan dimungkinkan
dengan pemberian kredit, industri mereka sebagian besar terdiri dari pembuatan
penambah seksual, minyak gosok dan penerbitan buku-buku amoral. Akibatnya,
mereka memiliki situasi ekonomi yang paling lemah. Soepratman kemudian
mengatakan bahwa pribumi juga memiliki situasi yang sama dan akan tetap
demikian setidaknya selama 7 generasi. Mereka menginginkan kebebasan, tetapi
masih peduli dengan takhayul dan omong kosong. Orang-orang membiarkan diri
mereka ditendang dan dipukuli dan merasa puas jika mereka mendapatkan uang saku
yang mahal atau pekerjaan sebagai BB. Orang Tionghoa dan Jepang memiliki
pandangan yang berbeda dan menyekolahkan putra-putranya untuk mengenyam
pendidikan’. Dalam edisi lain (lihat Hindia Baroe edisi 8-13 April 1926 (lihat
Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1926, no 16,
22-01-1926) dalam sebuah artikel tentang sejarah Batavia dari asal-usulnya, WR
Soepratman menyebut orang Spanyol sebagai ras yang sekarang dikalahkan oleh
Riff-Kabyl, sedangkan Diponegoro dikatakan telah ditangkap dengan licik dan
kemudian ditransfer ke Batavia dan kemudian diasingkan di Sulawesi’
Tunggu deskripsi lengkapnya
WR Soepratman dan Lagu Indonesia Raya: Diantara Parada
Harahap dan Mohamad Tabrani
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang
tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





