*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Dalam PPKI (Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) semua (suku) bangsa terwakili. Orang Batak diwakili oleh
Mr Abdoel Abbas Siregar, Orang Ambon oleh Mr J Latuharhari, Orang
Bugis-Makassae oleh Andi Pangeran, Orang Minahasa-Manado oleh Dr Ratulangi.
Demikian seterusnya. Orang Tionghoa (Cina) diwakili oleh Drs Yap Tjwan Bing.
Posisi semua anggota penting di PPPKI, karena di tangan panitia ini UUD
dirumuskan yang menjadi dasar (statuta) berbangsa: Bangsa Indonesia.
adalah seorang politikus keturunan Tionghoa aktif masa kemerdekaan Indonesia
dan menjadi anggota PPKI dan anggota legislatif hingga 1954. Yap lahir di
Surakarta. Ia menempuh pendidikan Sarjana Farmasi di Municipal University of
Amsterdam pada 1932. Setelah lulus, pulang ke tanah air mendirikan apotek di
Bandung. Ia merupakan satu-satunya keturunan Tionghoa dalam PPKI. Ia menghadiri
Sidang 18 Agustus 1945, sidang merumuskan Undang-Undang Dasar 1945 serta
mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden. Setelah PPKI dibubarkan, Yap menjadi
anggota KNIP. Apoteknya di Bandung dibakar, Yap pindah ke Yogyakarta, mendirikan
Chung Hwa Chung Hwee sebagai bagian upaya mempersatukan Tionghoa dalam
mendukung kemerdekaan Indonesia. Tahun 1948 ia membubarkan CHCH dan meleburnya
ke Persatoean Tionghoa dan kemudian Yap kembali lagi ke Bandung setelah Agresi
Militer Belanda II, Namanya sempat diasosiasikan dengan Negara Pasundan ditawarkan
menjabat sebagai Menteri Luar Negeri namun Yap menolak dan lebih untuk
mendukung Republik Indonesia dan bergabung dengan PNI. Saat KNIP berubah
menjadi DPR-RIS Yap menjadi anggota DPR-RIS. Pasca RIS, Yap sebagai anggota DPR
Sementara PNI hingga 1954 dan digantikan oleh Tony Wen. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Drs Yap Tjwan Bing? Seperti disebut di atas, Yap Tjwan Bing termasuk
salah satu anggota PPKI yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Belanda. Lalu
bagaimana sejarah Yap Tjwan Bing? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Yap
Tjwan Bing: Studi ke Belanda
Yap
Tjwan Bing diterima di sekolah Emma School Batavia, Afdeeeling Technische
School pada tahun 1924 (lihat De Indische courant, 17-05-1924). Akan tetap Yap,
setelah satu tahun tidak meneruskannya dan kemudian masuk di sekolah menengah
umum MULO. Pada tahun 1928 Yap Tjwan Bing lulus ujian akhir di sekolah MULO di
Malang (lihat De Indische courant, 18-05-1928).
Siswa yang diterima di Emma School Batavia adalah
lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda HIS dan sekolah Eropa (ELS). Emma
School Batavia semacam SMK pada masa ini. Sementara itu siswa yang diterima di
MULO adalah lulusan HIS dan ELS. Lulusan MULO dapat melanjutkan pendidikan ke
tingkat yang lebih tinggi seperti HBS 5 tahun dan AMS 6 tahun.
Setelah
lulus MULO, Yap Tjwan Bing melanjutkan studi ke AMS. Pada tahun 1931 Yap di
AMS-Salemba, Afdeeling B (Batavia) lulus ujian transisi naik dari kelas lima ke
kelas enam (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-04-1931).
Satu kelas dengan Yap antara lain M Goenawan dan Sanoesi. Satu kelas di bawah
mereka antara lain R Loemban Tobing dan RKE Djajadiningrat.
Sekolah menengah AMS lama studi enam tahun
(berbeda dengan HBS yang hanya lima tahun). Lulusan MULO di kedua jenis sekolah
ini diterima di kelas empat. Yap Tjwan Bing, sebagai lulusan MULO tahun 1928,
ditempatkan di kelas empat. Pada tahun 1931 Yap naik ke kelas enam.
Pada
tahun 1932 Yap Tjwan Bing lulus ujian akhir di AMS Salemba Afdeeeling B (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 10-05-1932). AMS/HBS terdiri dari dua atau tiga afdeeling. Yap di
Afdeeeling B artinya jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Yap
Tjwan Bing kemudian melanjutkan studi ke Belanda.
Lulusan AMS pada dasarnay banyak pilihan untuk
meningkatkan studi ke perguruan tinggi seperti fakultas teknik THS Bandoeng, fakultas
hukum RHS Batavia dan fakultas kedokteran GHS Batavia. Namun banyak juga
diantara lulusan AMS di Hindia Belanda yang melanjutkan studi ke Belanda. THS
dibuka tahun 1920, RHS dibuka tahun 1924 dan GHS dibuka tahun 1927.
Yap
Tjwan Bing berangkat ke Belanda pada bulan Agustus (lihat De locomotief, 15-08-1932).
Yap Tjwan Bing berangkat dengan kapal ss Baloeran dari Batavia tanggal 17
Agustus dengan tujuan akhir Rotterdam. Yap Tjwan Bing belum diketahui studi
dimana di Belanda. Namun yang jelas di Belanda, para mahasiswa asal Indonesia
(baca: Hindia Belanda) tengah memanas, karena di Hindia Belanda sendiri juga politik
tengah memanas.
Mahasiswa-mahasiswa asal Hindia Belanda
memiliki organisasi sendiri. Ada organisasi mahasiwa Indo (Belana), organisasi
orang Cina dan organisasi pribumi. Organisasi pribumi adalah Perhimpoenan
Indonesia.
Yap
Tjwan Bing lulus ujian dan mendapat gelar sarjana pada tahun 1939 (lihat De
standaard, 10-06-1939). Disebutkan di Gem, Universiteit Amsterdam lulus ujian
dengan gelar apotheker, Yap Tjwan Bing. Setelah mendapat gelar sarjana, Yap
Tjwan Bing kembali ke tanah air.
Yang Tjwan kembali ke tanah air pada bulan
Agustus 1939 (lihat Algemeen Handelsblad, 03-08-1939), Jika tujuh tahun lalu
berangkat dengan kapal ss Baloeran, Yap Tjwan Bing juga pulang dengan kapal ss
Baloeran, berangkat dari Rotterdam tanggal 2 Agustus dengan tujuan akhir
Batavia.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Drs Yap Tjwan Bing: Anggota
PPKI Seorang Republiken
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




