*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Apakah
ada hubungan sejarah Filipina dan Indonesia? Tentu saja ada. Namun apa
pentingnya mempelajari sejarah Filipina? Satu yang pasti Sejarah Menjadi
Indonesia tidak cukup hanya memperlajari sejarah di pulau-pulau Indonesia
(Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua). Untuk
mengetahui Sejarah Menjadi Indonesia secara komprehensif jelas diperlukan pemahamana
dari sisi luar (Semenanjung, Brunai, Sarawak dan Sabah, Australia, Papua Nugini
dan Filipina). Pendekatan semacam tersebut selama ini tentu saja tidak lazim.
Namun faktanya Sejarah Menjadi Indonesia terhubung dengan wilayah lain. Hal
itulah mengapa perlu mempelajari Sejarah Filipina.

dekat Manila ditemukan peninggalan lempeng tembaga tertulis dari abad ke-8 yang
dihubungkan dengan pengaruh Sriwijaya. Oleh karena bukti tertulis ini minim, ahli-ahli
sejarah Filipina beranggapan sejarah Filipina dimulai sejak era kolonialisme. Sebelum
kehadiran Spanyol pada abad ke-16, di Filipina berdiri kerajaan-kerajaan kecil bercorak
animisme dengan sedikit pengaruh India dan bercorak Islam di bagian selatan
kepulauan. Kerajaan-kerajaan muslim ini mendapat pengaruh dari Kerajaan Malaka.
Filipina berada di bawah pengaruh Spanyol selama 265 tahun (1565-1821) dan
kemudian selama 77 tahun dijadikan provinsi Spanyol (1821-1898). Nama Filipina
sendiri merujuk pada nama Spanyol, Raja Felipe II. Sejak 1898, Filipina berada
di bawah kekuasaan Amerika Serikat dan menjadi anggota persemakmuran Amerika
Serikat sejak tahun 1935. Setelah sempat di bawah pendudukan militer Jepang, Filipina
memperoleh kemerdekaannya tanggal 4 Juli 1946 (Wikipedia).
Sejarah
Filipina akan dipelajari lebih lanjut dari berbagai aspek. Setiap aspek ditulis
pada setiap artikel sendiri. Serial artikel Sejarah Filipina ini mendampingi
serial artikel Sejarah Singapoera (Federasi Malaysia) dan serial artikel
Sejarah Australia dalam upaya memahami Sejarah Menjadi Indonesia. Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe Sejarah Filipina dengan artikel pertama: Asal
Usul Filipina Dimulai Sejak Kapan?

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Asal Usul Filipina Dimulai
Sejak Kapan?
Seperti
halnya di Indonesia, Filipina yang terdiri dari ribuan pulau itu, juga terdiri
dari berbagai etnik (suku bangsa). Salah satu etnik di Filipina, Visaya
mengakui berasal dari Sriwijaya. Ada yang menyebut Visaya merujuk pada nama
Sri-Vishaya, Meski demikian adanya, para ahli belum menemukan ada bukti secara
jelas apakah etnik Visaya bagian keturunan Sriwijaya. Selain itu juga tidak ada
bukti secara fisik bahwa Sriwijaya pernah berkuasa di wilayah Filipina. Pada
masa kini, (kepulauan) Filipina terdiri dari tiga (kelompok) etnik besar: etnis
(kolompok) Luzon di bagian utara, etnis (kelompok) Visaya di bagian tengah dan
etnis (kelompok) Mindanao di bagian selatan. Seperti halnya di Indonesia, tentu
saja berbagai etnik (bahasa) di Filipina memiliki asal-usul yang berbeda.
Menurut sumber Cina, sebelum kedatangan orang
Spanyol, Manila berada di laut tenggara 300 mil dari Cina. Pedagang-pedagang
Cina lalu lalang antara Cina dan Manila (lihat Opmerkingen van den Chinees Ong
Hoe Hoe gedurende zijn verblijf in den Indischen Archipelago yang dimuat dalam
Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1852). Penampilan penduduknya memiliki
beberapa kemiripan dengan orang Cina. Pulau Luson (Lesong) kaya akan produk
emas, mutiara, kura-kura, kamper, sarang burung yang dapat dimakan, tripang,
kayu gubal dan kayu hitam serta ikan asin.
Menurut
Mendes Pinto yang mengunjungi Kerajaan
Aroe (Battak Kingdom) dari Malaka pada tahun 1539 mencatat bahwa tentara Aroe
terdiri dari tentara Batak dan yang berasal dari Indragiri, Djambi, Borneo dan
Luzon. Pasukan ini diperkaya oleh orang-orang Moor. Disebutkan Mendes Pinto
kerajaan Aru pernah menyerang Malaka.
Kerajaan Aru berada di daerah aliran sungai
Baroemoen (B-aroe-moen). Suatu wilayah yang sudah eksis sejak zaman kuno.
Setelah militer (Kerajaan Chola) menaklukkan Sriwijaya, wilayah daerah aliran
sungai ini dibangun sekitar abad ke-11. Sisa peninggalan Chola tersebut pada
masa kini dikenal sebagai Candi Padang Lawas (kini di Tapanuli bagian selatan).
Berakhirnya era Hindoe-Boedha di daerah aliran sungai ini muncul Kerajaan Aroe
(kerajaan yang menguasai seluruh bagian utara pulau Sumatra). Orang Moor sendiri
adalah pelaut-pedagang berasal dari Afrika Utara di laut Medieterania (kini
Morocco dan Tnnisia) beragama Islam yang sebelum bergeser ke pantai timur
Sumatra dan Semenanjung Malaya sudah sejak lama membentuk koloni di Gujarat,
Surate dan Goa (pantai barat India). Orang Moor yang pernah menaklukkan
Portugis dan Spanyol pada era Dinasti Abbasiah dapat dikatakan pendahulu
(predecesson) orang Portugis dan Spanyol ke Hindia Timur. Orang-orang Moor
awalnya bermukim di tenggara Malaka di Muar (merujuk pada nama Moor, Moar dan
Moear). Sedangkan di Malaka tempat bermukim orang-orang India. Nama Malaka
sendiri sebutan orang Moor untuk Malaya yang merujuk pada Himalaya, Kota Malaya
atau Malaka menjadi nama kota, dan nama Malaya menjadi nama wilayah
(semenanjung). Orang-orang Moor juga ada yang berada di pulau (pulau Moro di
Riau).
Dari
keterangan Mendes Pinto seperti disebut di atas, sudah ada hubungan yang
terbentuk di masa lalu antara pantai timur Sumatra (Kerajaan Aru) dengan pulau
Luzon (di Filipina sekarang). Bukti adanya hubungan yang kuat antara Kerajaan
Aru dan Luzon karena adanya tentara Kerajaan Aroe juga diperkuat dari Luzon.
Kerajaan Aru juga diperkuat dari Djambi, Indragiri dan Minacabo (Minangkabau).
Saat Mendes Pinto berkunjung tahun 1539, Kerajaan Aru sedang bermusuhan dengan
Atjeh.
Pelaut Spanyol pada dasarnya
sudah mengunjungi Filipina pada tahun 1521 (sepuluh tahun setelah Portugis
menaklukkan Malaka, 1511). Orang Portugis sendiri baru tahun 1524 mengunjungi
kota pelabuhan Boernai (yang kemudian nama pulau disebut pulau Borneo). Diduga
karena kalah bersaing dengan Portugis di Maluku, Spanyol memperluas
perdagangannya ke Filipina dan mendirikan koloni di San Miguel di pulau Cebu
pada tahun 1565. Orang-orang Portugis baru mencapai pulau Luzon di teluk Manila
pada tahun 1571
Berdasarkan
sumber Cina sebagaiana dapat dibaca dalam Tijdschrift voor Neerland’s Indie,
1852, bahwa pada masa pemerintahan Beng orang Spanyol merebut Manila dan
membangun sebuah kota disana bernama Koo-toe yang terletak di suatu pulau
bagian luar teluk Manila. Mereka membentengi pulau Kang-Yit di sebelah barat
kota agar dapat menaklukkan semua yang dekat atau jauh. Pada masa pemerintahan
Kaisar Keen-lens, dari benteng, orang Eropa berambut merah (ras orang asing
yang mendiami sudut barat laut laut) datang tiba-tiba dengan selusin kapal
perang dan menyerang Manila. Kejadian ini seperti disebut di atas terjadi pada
tahun 1571.
Wilayah kawasan laut Cina selatan ini sebelum
kedatangan Portugis dan Spanyiol sudah menjadi jalur navigasi perdagangan
orang-orang Moor dari selat Malaka ke Ternate melalui pantai utara Borneo terus
melewati laut Celebes ke Mindanao dan ke Ternate (Maluku) melalui semenanjung
Celebes. Hal itulah mengapa Mendes Pinto (1539) mencatat Kerajaan Aru memiliki pasukan
yang berasal dari Luzon, pasukan yang diduga kuat dihubungkan oleh para
pedagang-pedagang Moor. Sejak adanya jalur perdagangan antara Malaka dan
Ternate, kawasan pulau-pulau di timur laut pulau Borneo (kini Filipina)
terdapat pemukiman yang dikaitkan dengan orang-orang Moor seperti pulau Paragoa
(yang merujuk pada nama Goa di India, kini pulau Palawan), pulau Panay (kota
pelabuhan Panai di Kerajaan Aroe), kota pelabuhan Amoerang (semenanjung
Celebes) dan pulau Batachini del Moro (kini pulau Halmahera) dan kepulauan di
selatan Banda (kepualauan Aroe). Nama Maluku diduga juga terkait dengan
orang-orang Moor (merujuk pada nama Malaka). Orang Portugis mengeja Malaka
menjadi Malacca dan Maluku menjadi Molucca. Sebagaimana
diketahui pada sumber masa kini, Gujarat, Suratte dan Goa jatuh ke tangan
Portugis. Demikian juga Malaka dan Maluku. Setelah semua pos-pos perdagangan
yang penting orang-orang Moor diambilalih orang Portugis barulah menyusul
kedatangan orang-orang Spanyol. Kekuatan Portugis atas Spanyol di Maluku
menyebabkan orang Spanyol bergeser ke Filipina. Boleh jadi pergeseran ini
menjadi awal Spanyol membentuk koloni di Manado, Sangir dan Talaud serta di
pulau Cebu pada tahun 1565 dan di pulau Luzon (Manila) pada tahun 1571.
Pada
tahun 1597 pelaut-pelaut Belanda dari Texel yang dipimpin Cornelis de Houtman
tiba di Hindia Timur dan sebelum pulang berkunjung ke Bali dan meninggalkan dua
pedagangnya. Pada tahun 1598 dari Utrecht pelaut Belanda berangkat mengikuti
jalur Magellan yang dipimpin oleh Oliver van Noort. Pada tahun 1601 tiba
Dieven-Eylanden en Manilha (lihat Hollands rijkdom, behelzende den oorsprong
van den koophandel, en van de magt van dezen staat., 1780). Disebutkan Oliver
van Noort mendapatkan keuntungan lebih dari Portugis yang datang untuk
menyerangnya dengan dua kapal perang yang besar. Dalam perjalanan pulang Oliver
van Noort berlayar ke Borneo (lihat Peta Oliver van Noort, 1601) dan dari sana
ke Joartan, lalu ke arah Balembouang (Blambangan) dan terus ke selatan mengelilingi
Jawa dan lalu melanjutkan perjalanannya, melewati Goode Hoop ke Belanda. Sejak
itu pelaut-pelaut Belanda melakukan revans terhadap pelaut-pelaut Portugis.
Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda yang
dipimpin oleh Steven van der Hagen tiba di Bali dan kemudian merangsek ke
Maluku dan menaklukkan Portugis di Amboina (benteng Voctoria dikuasai). Sejak
ini kekuatan Belanda semakin kuat di Maluku dengan mengusir Portugis dari
Banda. Pada tahun 1612 pelaut-pelaut Belanda kembali menaklukkan Portugis di
Timor. Portugis hanya tersisa di Ternate di (kepulauan) Maluku. Ternate
sebelumnya dikuasai Portugis setelah lebih dahulu mengusir Spanyol dari Ternate
(seperti disebut dia atas lalu Spanyol menyingkir ke Filipina). Kehadiran
Belanda dan banyaknya kemenangan Belanda disambut gembira oleh
pedagang-pedagang Moor. Pada tahun 1643 Belanda menaklukkan Portugis di Malaka
dan kemudian kembali Belanda menaklukkan Portugis di Ternate pada tahun 1657.
Orang-orang Moor kembali mendapat angin dan bekerjasama dengan pedagang-pedagang
Belanda. Portugis tersingkir dan satu-satunya pos perdagangan yang tersisa di
Macao. Belanda (VOC) menjadi satu-satunya kekuatan utama di Hindia Timur (minus
Spanyol di Filipina).
Dengan
terusirnya Portugis dari Hindia Timur oleh VOC (Belanda) orang-orang Moor
menjadi second striker dalam pedagangan domestik di Hindia Timur untuk saling
mendukung dengan pedagang-pedagang VOC. Koloni-koloni orang Moor yang diakusisi
oleh Portugis diambilalih kembali oleh orang-orang Moor seperti di selatan
Malaka, pantai utara Borneo, Paragoa, Mindanao, semenanjung Celebes dan
Halmahera. Orang-orang Moor yang beragama Islam mulai memasuki wilayah pantai
utara Jawa dan kepulauan Soenda Ketjil (terutama di Soembawa). Orang-orang Moor
juga mulai melakukan perlawanan (pembangkangan) terhadap orang-orang Spanyol di
Filipina (seputar kawasan Mindanao, pulau Parago dan kepulauan Soeloe).
Orang-orang Moor sudah sejak lama terputus
dengan kampong halaman di Afrika Utara. Musuh lama (Portugis dan Spanyol sudah
dientaskan Belanda). Orang-orang Moor
sudah menganggap dirinya sebagai orang Hindia Timur daripada orang
Afrika Utara. Orang Moor di Jawa oleh penduduk pribui disebut sebagai Orang
Kodja dan orang Moor di Filipina disebut oleh penduduk pribumi sebagai Orang
Moro. Filipina menjadi terbagi dua wilayah penyebaran agama: di utara oleh
orang Spanyol agama Katolik dan di selatan oleh orang Moor agama Islam. Orang
Moro juga ditemukan di Halmahera (Morotai), di pantai timur Celebes (Morowali)
dan di pulau Karimun, Riau (pulau Moro).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Filipina: Spanyol, Amerika
Serikat hingga Jepang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




