*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Adakalanya
fakta sejarah tempo doeloe, sangat berbeda apa yang bisa dilihat dan dirasakan
sekarang. Tidak selalu bersifat linier. Sebab bisa jadi ada satu masa dalam
garis sejarah terjadi interupsi. Bahkan kehadiran orang-orang Belanda di
wilayah Indonesia yang sekarang di masa lampau adalah satu bagian dari rentang
sejarah dimana terjadi interupsi. Sebab ini hari kita tidak bisa menemukan
seorang pun orang Belanda di sekitar kita, padahal di masa lampau orang Belanda
terdapat dimana-mana di tengah penduduk (bahkan selama tiga abad). Hal itu yang
terjadi pada teluk Tomini. Angkatan laut Hindia Belanda pada tahun 1850an teluk
Tomoni adalah suatu wilayah rawa. Tentu sangat berbeda dengan yang sekarang. Itu
berarti ada suatu interupsi di teluk Tomini.

Gorontalo. Teluk Tomini adalah suatu teluk yang berada di pulau Sulawesi, menghadap
ke Ternate dan lautan Pasifik. Teluk Tomini dapat dikatakan sebagai teluk
terluas di Indonesia (luas perairan 140.000 Km2 dengan garis pantai 1.400 Km).
Bentuk teluk Tomini tidak lazim untuk ukuran yang luas (120.00-123.30 BT dan 0.30-1.30
LS). Bentuknya tidak cekung seperti umumnya, tetapi hampir membentuk lingkaran.
Bentuk teluk ini santa unik. Di pintu masuk teluk ini terdapat sejumlah
pulau-pulau kecil seperti pulau Togian dan pulau Una-Uana. Pada masa ini teluk
Tomini berbatasan di utara Semenanjung Sulawesi (Provinsi Gorontalo dan
Provinsi Sulawesi Utara), di timur Laut Maluku, di selatan Provinsi Sulawesi
Tengah dan di barat Provinsi Sulawesi Tengah.
Lantas
bagaimana sejarah Teluk Tomini? Saat masih terdapat banyak rawa dan kapal uap
Pemerintah Hindia Belanda tidak bisa memasukinya, kerap dijadikan bajak laut
sebagai tempat pelarian. Wilayah ini masuk wilayah yurisdiksi Kesultanan
Ternate. Lalu mengapa di teluk Tomini pernah terbentuk rawa besar tetapi kini
rawa hanya sebatas dekat daratan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Teluk Tomini di Pulau
Celebes
Nama
teluk Tomini sudah lama dikenal. Namun pada era VOC, teluk ini kerap
diperbincangkan karena sulit diakses. Para ahli katografi (ahli pembuat peta)
di Eropa masih menganggap wilayah teluk Tomini masih gelap, kurang dikenal dan
tidak ada informasi atau keterangan mengenai nama geografi yang diidentifikan.
Pada peta dunia 1696, status (wilayah) teluk Tomini disamakan dengan wilayah
gelap lainnya seperti Siberia (Amerika Utara), Selandia Baru, Australia bagian
selatan, Papua dan California plus pulau-pulaunya (pantai barat Amerika).
Catatan peta tersebut memberi keterangan Teluk Tomini dianggap sebagai teluk
tersembunyi (ontbreekt de Tomini baai).

peta-peta Portugis, bentek pulau Sulawesi khususnya teluk Tomini sangat berbeda
dengan bentuk yang sekarang. Bentuk peta tersebut pada awal era VOC masih sama dengan era Portugis. Jika
membandingkan keterangan peta dunia 1696 bahwa teluk Tomini sebagai teluk
tersembunyi menunjukkan bahwa teluk tersebut tidak pernah diakses oleh
pelaut-pelaut Eropa. Ada apa di dalam teluk Tomini tetap menjadi misteri
Tunggu deskripsi lengkapnya
Teluk Tomini Semasa Wilayah
Yurisdiksi Kesultanan Ternate
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






