*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini
Fakta wilayah Malang adalah wilayah yang
subur. Ada gunung vulkanik yang sejak masa lampau di zaman kuno terbentuk
kerajaan-kerajaan besar seperti Singosari. Dalam hal ini wilayah Malang adalah wilayah
yang memiliki sejarah dalam peradaban, dalam perekonomi dan dalam hal ini dalam
pertanian. Bagaimana dengan perkebunan sejak era VOC dan Pemerintah Hindia
Belanda?

Kopi dan Gula: Perkebunan di Kawasan Regentschap Malang 1832-1942. R
Reza Hudiyanto dalam jurnal Sejarah dan Budaya Vol 9, No 1 (2015). Abstract, Jawa
sangat terkenal dengan kekayaan pertanian seperti kopi dan gula. Kondisi ini
begitu dipahami oleh pemerintah. Di masa lalu, pemerintah kolonial
mengeksploitasi tanah dan orang untuk bekerja di lahan tersebut. Salah satu
dari wilayah yang sangat subur terletak di antara bukit antara gunung Bromo dan
gunung Semeru, Malang. Perkebunan ini telah memiliki dampak berganda pada
kehidupan sosial ekonomi. Tulisan ini akan mendeskripsikan keterkaitan antara
perkebunan dan pertumbuhan Malang dari pertengahan abad ke-19 dan ke-20. Lebih
lanjut, hal ini akan menyadarkan masyarakat bahwa aktivitas-aktivitas tersebut
merupakan permulaan dari keterlibatan orang Jawa dalam pasar dunia. (http://journal2.um.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah pertanian di wilayah
Malang? Seperti disebut di atas, wilayah Malang adalah wilayah subur di
pegunungan dimana terdapat gunung-gunung vulkanik yang sejak masa lampau menjadi
pusat peradaban dengan eksistensi pertanian. Dalam hal ini bagaimana pengembangan
perkebunan plantation onderneming di wilayah pegunungan pada era VOC dan
Pemerintah Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah pertanian di wilayah Malang? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Pertanian di Wilayah Malang; Pengembangan Perkebunan
Plantation Onderneming di Wilayah Pegunungan
Tidak banyak yang diketahui di (wilayah) Malang pada
era VOC. Meski demikian sudah ada logi VOC dana beberapa pedagang VOC di
Malang. Besar dugaan mereka hanya Sebatas aktivitas perdaganga. Namun apa yang
diperdagangkan juga tidak terinformasikan. Hingga permulaan Pemerintah Hindia
Belanda, bagaimana perdagangan di Malang juga tidak terinformasikan. Meski
demikian, diduga pedagang-pedagang Eropa/Belanda di Malang masih aktif dalam
kegiatan perdagangan. Pada tahun 1811 Pemerintah Hindia Belanda atas nama GG
Daendels melakukan perjanjian dimana salah satu artikel disebutkan landskap
Malang dan district Antang menjadi bagian dari wilayah Pemerintah Hindia
Belanda. Tidak lama kemudian pada tahun 1811 ini terjadi pendudukan Inggris.
Selama pendudukan Inggris bagiama situasi dan kondisi di Malang juga
tidak banyak yang terinformasikan. Dalal laporan Raffles (dalam bukunya The
History of Java) disebutkan luas keseluruhan land 2.823 mil persegi, dimana
lahan yang menghasilkan seluas 1.065 mil persegi yang terdiri dari sawah 206 mil
persegi, tegalan 188 mil persegi, pertanaman kopi 96 mil persegi, lahan yang
masih kosong 167 mil persegi dan hutan jati 273 mil persegi. Ini mengindikasikan
wilayah Malang paling tidak ada tiga komoditi perdagangan utama yakni padi,
kopi dan kayu jati. Juga ada indikasi selama pendudukan Inggris (mungkin jauh
sebelumnnya pada era VOC) perdagangan benda-benda kuno (cf. Utrechtsche courant,
16-06-1819).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pengembangan Perkebunan Plantation Onderneming di
Wilayah Pegunungan: Wilayah Malang Era VOC dan Pemerintah Hindia Belanda
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com







