Jika penamaan semenanjung Aurea Chersonesus adalah tepat, dan tambang
emas tidak ditemukan di Semenanjung Malaya (melainkan besi/timah), lalu apakah
peta Ptolomeus abad ke-2 itu adalah Semenanjung Sumatra? Jika diasumsikan peta
itu adalah (semenanjung/pulau) Sumatra, penghasil emas, maka sungai yang
memanjang dari pegunungan di utara ke selatan adalah sungau Irawadi? Oleh
karena peta Ptolomeus itu juga memotong garis ekuator, maka kemungkinan peta
itu adalah pulau Sumatra. Lalu sungai yang berada di sebelah timur adalah
sungai Chao Phraya yang (yang membelah kota) di Bangkok yang sekarang. Sungai
Irawadi itulah yang kemudian memisahkan Sumatra dan Semenanjung Malaya sebagai
Selat Malaka. Dalam hal ini Semenanjung Malaya kemudian tidak dipotong lagi
garis ekuator, yang mana wilayah di selatan ekuator sebagai pulau-pulau yang
terbentuk Bangka dan Belitung.
mengapa menjadi sulit menerjemahkan Aurea Chersonesus versi Ptolomeus ini?
Sumber ‘kekacauan’ sebenarnya bermula terjadi dua peristiwa. Pertama para
penulis dan pembuat peta di Eropa telah menyalin arsip Ptolomeus dengan
menggambar ulang peta-peta dengan caranya sendiri-sendiri. Kedua, berdasarkan
peta-peta itu, laporan pelaut Portugis pertama Afonso de Albuquerque  (1506) meyakini Semenanjung Aurea Chersonesus
itu adalah Semenanjung Malaka karena ditemukan perdagangan emas (lihat Held-dadige
scheeps-togt van Alfonso d’Albuquerque, na de Roode-Zee, in het jaar 1506 (1706).

belum sampai ke Malaka, tetapi mendapatkan gambaran tentang Malaka di India,
bahwa di Malaka emas diperdagangkan cukup banyak. Laporan inilah kemudian yang
menyerbar di Eropa Semenanjung/Pulau Emas Aurea Chersonesus telah ditemukan. Kadung
berita itu sudah menyebar, fakta peta-peta yang dirujuknya yang telah publish
di Eropa tidak menggambarkan sesungguhnya. Sebab saat orang-orang Portugis
mencapai Malaka tahun 1509, Malaka memang berada di kawasan Semenanjung, tetapi
sudah diketahui orang-orang Inggris bahwa pulau-pulau di sebelah barat
Semenanjung Malaka jauh lebih besar (yang dipisahkan oleh lautan Selat Malaka).
Dalam perkembangannya pelaut-pelaut Portugis meyakini gunung Pasangan (di
pantai barat Sumatra) sebagai gunung Ophir (sebagaimana disebutkan didalam
kitab suci).
Sebenarnya
sepenuhnya kesalahan menerjemahkan peta Aurea Chersonesus oleh pelaut-pelaut
Portugis, karena faktanya peta yang disalin di Eropa memang menggambarkan hanya
ada satu semenanjung (Sememanjung) Malaka. Pertanyaannya? Mengapa pulau Sumatra
tidak tergambarkan padahal lebih besar dari Semenanjung Malaka? Kesalahan
interpretasi kedua adalah soal pulau Taprobana, yang juga diyakini
pelaut-pelaut Portugis itu berada di Ceylon (karena memang mirip).
Dalam konteks itulah, dalamhal ini harus
diinterpretasi ulang. Seperti diuraikan di atas bahwa sungai yang membelah
semenanjung Aurea Chersonesus adalah sungai Irawadi (cikal bakal Selat Malaka).
Dengan asumsi syungai tersebut adalah sungai Irawadi/Selat Malaka, maka akan
jelas bahwa pulau Sumatra dan Semenanjung Malaka ada dua dartan yang terpisah.
Dalam hubungan ini, nama Cattigara yang diinterpretasi dari catatan geografi
Ptolomeus adalah (kota) Kamboja yang sekarang. Lalu bagaimana dua semenanjung
zaman kuno era Ptolomeus itu, yang mana Sumatra adalah suatu pulau? Seperti
telah dideskripsikan pada artikel terdahulu, karena terjadi abrasi jangka
panjang yang menyebabkan Semenanjung Sumatra terputus dengan sisa pulau-pulau
kecil di Andaman yang sekarang. Sementara daratan di arah selatan Semenanjung
Malaka telah terpecah-pecah menjadi pulau-pulau yang lebih kecil seperti pulau
Bangka, Beliting, Lingga dan Bintan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Era Semenanjung Chersonesus:
Upaya Menjelaskan Kedah Tua dan Kerajaan Kedah
Apakah
Kedah Tua adalah nama tempat yang sudah tua? Setua apa? Dalam catatan geografi
Ptolomeus, selain ada gambaran peta semenanjung Aurea Chersonesus, juga
disebutkan keberadaan Cattigara dan sumber kamper berasal dari bagian utara
suatu pulau (Sumatra). Dalam hal ini Ptolomeus hanya mengindikasikan dua jenis
produk perdagangan kuno yakni kamper (bagian utara pulau Sumatra) dan emas
(nama semenanjung Aurea Chersonesus). Lalu bagaimana dengan Kedah? Apakah
ditemukan emas dan kamper? Sebagaimana yang bisa dibuktikan pada masa ini hanya
besi (dan tentu saja timah). Dalam hal ini sumber besi lain juga ditemukan di
kepulauan Karimata. Pertanyaannya sekarang, sejak kapan terbentuk peleburan
besi di Kedah?.
Peradaban besi dengan teknologi peleburan
besis sudah lama terjadi. Dalam tulisan yang ditemukan sekarang, disebutkan
peleburan besi di Kedah diduga bermula abad ke-1 dan bahkan ada yang menyebut
sejak abad ke-4 sebelum masehi. Tentulah itu sudah tua. Namun berapa angka yang
pasti kita masih akan menunggu. Jika kita meyakini temuan emas dan besi sudah
lama di semenanjung Aurea Chersonesus, lantas mana yang lebih dahulu ditemukan
di semenanjung tersebut? Besar dugaan yang lebih ditemukan adalah emas, sebab
wilayah Sumatra berada di sisi luar, sedangkan Kedah masih berada di dalam
(Semenanjung Sumatra belum terputus).
Situs
Kedah Tua yang kini berada di Lembah Bujang, sebagai ditemukan bangunan batu
mirip candi pada sekitar 110 M (lihat Wikipedia). Sementara itu, pusat
(kerajaan) Kedah berawal di Sungai Batu (adanya pelabuhan kuno dan tempat
peleburan besi). Kerajaan Kedah didirikan pada tahun 630 M (dan menjadi kesultanan/Islam
tahun 1136 M).

Semenanjung Malaya dan salah satu Kesultanan tertua yang didirikan pada tahun
1136. Kerajaan Kedah (630-1136) didirikan oleh Maharaja Derbar Raja dari
Gemeron sekitar 630 Masehi dan dinasti Hindu berakhir ketika Phra Ong
Mahawangsa berpindah ke Islam. Menurut tradisi, pendirian Kerajaan Kedah (atau
Kadaram) terjadi sekitar tahun 630 M, (Wikipedia).
Dua
situs tua di Kedah (Lembah Bujang dan Sungai Batu) haruslah dipandang terbentuk
pada dua era yang berbeda. Lembah Bujang (banguna mirip candi) diduga lebih
awal. Sebab saat itu garis pantai berada di Lembah Bujang. Dalam hal ini Sungai
Batu (peleburan besi) belum terbentuk karena masih perairan (laut). Bahkah kota
Sungai Patani juga masih perairan (semacam teluk). Perairan yang kini menjadi
lembah berada antara pegunungan Lembang Bujang di utara dan bukit Hash (H) di
selatan. Lalu kemudian terjadi proses sedimentasi jangka panjang.

Proses sedimentasi jangka panjang ini diduga
karena aktivitas penduduk di sekitar Lembah Bujang apakah untuk tujuan
pengumpulan bijih besi atau perladangan. Tidak ada aktivitas gunung api. Â Teluk Lembah Bujang ini lambat laun mendangkal
karena proses sedimentasi yang kemudian menjadi daratan (lembah yang sekarang).
Sungai Merbok adalah jalan air menuku laut, yang sebelumnya adalah
sungai-sungai kecil yang bermuara ke teluk.
Sungai
Merbok yang terbentuk (di hilir) di sisi selatan kemudian terbentuk pemukiman
(baru) pada era lebih lanjut yang mana di tempat pemukiman ini didirikan
peleburan besi. Penetapan pemukiman baru di sisi selatan karena terlebih dahulu
menjadi daratan (jikan dibandingkan di sisi lain sungai yangkini menjadi pusat
lembah). Lantas berapa abad perbedaan keberadaan pemukiman di Lembah Bujang
(candi) dan pemukiman Sungai Batu (peleburan besi).
Dalam perkembangannya tempat peleburan besi di
Kedah berpindah dari Sungai Batu ke Jentan (ke arah pedalaman). Ini
mengindikasikan Sungai Batu telah menjadi pusat keramaian/perdagangan (kota),
sedangkan Jentang menjadi sentra produksi besi.
Catatan
tertulis tertua tentang pusat peradaban berada di pantai timur Sumatra pada
abad ke-7 (lihat prasasti Kedoekan Boekit 682 M dan prasasti lainnya seperti
Kota Kapur dan Talang Tuwo). Dalam prasasti ini sudah disebut nama Sriwijaya
dan Jawa serta kota Minana/Minanga. Lantas kapan catatan terttua tentang tempat
di Kedah.
Pada era Ptolomeus (abad ke-2) ada tiha nama
penting yang disebut, selain semenanjung Aure Chersonesus, juga keberadaan
produk kamper di Sumatra bagian utara dan kota Cattigara (kota Kamboja yang
sekarang/Phnom Phen). Catatan tertua dari Tiongkok muncul pada abad ke-2
tentang kedatangan utusan (kerajaan) dari selatan. Utusan darimana yang berasal
dari selatan ini diduga dari Vietnasm (prasasti Vo Chan abad ke-3) dan Sumatra
(diduga terkait kamper Ptolomeus abad ke-2). .
Catatan
tertulis tertua tentang tempat di Kedah ditemukan dalam prasasti Tanjore (1030 M). Dalam teks
prasasti Tanjore tersebut disebut nama Kadaram yang diduga kuat adalah Kedah.
Pada masa ini, Kararam berada di Sungai Batu di daerah aliran sungai Merbok.
Isi teks prasasti Tanjore tersebut adalah sebagai berikut (hanya wilayah
kawasan Selat Malaka):
‘Setelah banyak kapal dikirim berputar di
tengah laut dan tertangkap Sangrama-Vijayaottungavarman, raja Kadaram,
bersama dengan gajahnya, yang disiapkan melawan dan kemenangan besar,…
tumpukan harta yang banyak, Vidyadhara-torana membuka gerbang kota
pedalaman yang luas yang dilengkapi perlengkapan perang, berhiaskan permata
dengan kemuliaan besar, gerbang kemakmuran Sriwijaya; Pannai dengan
kolam air, Malaiyur dengan benteng terletak di atas bukit; Mayirudingam
dikelilingi oleh parit; Ilangasogam yang tak gentar dalam pertempuran
sengit…; Mappappalam dengan air sebagai pertahanan; Mevilimbangam,
dengan dinding tipis sebagai pertahanan; Valaippanduru, memiliki lahan budidaya
dan hutan; Takkolam yang memiliki ilmuwan; pulau Madamalingam
berbenteng kuat; Ilamuri-Desam, yang dilengkapi dengan teknologi hebat;
Nakkavaram yang memiliki kebun madu berlimpah; dan Kadaram berkekuatan
seimbang, dengan tentara memakai kalal;
Nama
Kadaram disebut dua kali (di awal dan di akhir). Ini mengindikasikan bahwa
serangan (kerajaan) Cola di seputar Selat Malaka bermula di Kadaram (Kedah).
Lalu kemudian serangan ke wilayah Sriwijaya yang terdiri sejumlah nama tempat
(cetak tebal). Selanjutnya serangan ke Atjeh (I-lamuri Desam) dan
kemudian ke utara di Nakkavaram (Andaman). Setelah itu kembali ke
Kadaram.
Dalam teks prasasti Tanjore, nama Sriwijaya
tampaknya adalah suatu (wilayah) kerajaan. Dimana ibu kotanya di pantai timur
Sumatra masih belum pasti/diperdebatkan, apakah di Jambi, Palembang atau
Minanga. Nama-nama tempat yang disebut dalam teks di kawasan (wilayah)
Sriwijaya adalah nama-nama tempat yang mirip dengan nama-nama tempat yang masih
eksis hingga ini hari di wilayah Padang Lawas, daerah aliran sungai Baroemoen
(Tapanuli), yakni:Â Vidyadhara-torana = Torgamba
atau Batogana; Pannai = Pane; Â Malaiyur =
Malea; Mayirudingam = Runding; Ilangasogam = Binanga dan Songgam; Mappappalam =
Sipalpal; Mevilimbangam = Limbong; Valaippanduru = Mandurana; Takkolam = Akkola;
Madamalingam = Mandailing. Kawasan
dimana tempat-tempat ini sekarang di Padang Lawas berada di sekitar pusat
percandian. Candi tertua di Padang Lawas/Ankola/Mandailing adalah candi
Simangambat yang didirikan abad ke-8 (sejaman dengan pembangunan candi
Boroboedoer di Jawa). Pada masa itu, Minana (prasasti Kedoekan Boekir 682 M)
atau Minanga atau Binanga (sekarang) masih berada di garis pantai dimana sungai
Baroemoen bermuata (bahasa India selatan aroe dari b-aroe-moen adalah sungai)..
Sebagaimana
dikutip di atas, kesultanan Kedah, sebagai kesultanan tertua di Semenanjajung
Malaya didirikan pada tahun 1136 M. Tahun ini diduga tahun dimana berakhirnya
koloni Cola (India) di Selat Malaka (yang bermula dari serangan Cola tahun 1025
M). Dalam hal ini lama koloni Cola di Selat Malaka sekitar satu abad.
Candi-candi di Padang Lawas (minus candi Simangambat) dibangun sejak abad ke-11
hingga abad ke-14. Ini mengindikasikan bahwa Padang Lawas adalah pusat kerajaan
besar (merujuk pada banyaknya candi-candi). Candi lainnya yang terdapat di
pantai timur Sumatra adalah candi di Jambi, candi di Darmasraya dan candi di
Muara Takus.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Â
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
Â





