*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
Seperti
halnya, para pionir organisasi kebangsaan Indonesia, mungkin bayak yang tidak
mengetahui, pionir dan pendiri organisasi kemahasiswaan (Indonesia) hampir
semuanya berasal dari kota Padang Sidempoean. Seperti kata Dja Endar Moeda
bahwa pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, karena sama-sama mencerdaskan
bangsa. Demikian juga Soetan Casajangan mengatakan bahwa persatuan diantara
mahasiswa dapat memacu minat para pelajar untuk meningkatkan pendidikan dan
juga kesatuan diantara mahasiswa dapat menyuarakan pendapat tentang nasib
bangsa sendiri (pribumi). Soetan Casajangan adalah adik kelas Dja Endar Moeda
di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Soetan Casajangan menggagas
pendirian organisasi mahasiswa di Belanda tahun 1908 yang diberi nama Indische
Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia.

Indonesia) sudah ada tiga sekolah tinggi (di atas sekolah dasar) yakni sekolah
guru (kweekschool), sekolah kedoteran (docter djawa school) dan sekolah pamong.
Siswa pertama yang melanjutkan studi ke Belanda adalah Sati Nasution alias
Willem Iskander, berangkat 1857 lulus 1860 dan kembali ke tanah air mendirikan
sekolah guru tahun 1962 di Tanobato. Siswa berikutnya studi ke Belanda tahun
1874 adalah R Soerono dari Soeracarta, Adi Sasmita dari Bandoeng dan Banas
Lubis dari Tapanuli. Tiga guru muda itu dibawa oleh Willem Iskander. Namun
mereka berempat satu per satu selama mengikuti pendidikan meninggal dunia. Baru
tahun 1885 pemerintah kembali mengirin guru muda studi ke Belanda. Pada rentang
1885-1890 dari 10 orang yang studi ke Belanda hanya empat yang berhasil, yang
lainnya gagal dan juga ada yang meninggal. Program pemerintah dihentikan. Sejak
itu mulai ada siswa pribumi yang sukarela melanjutkan pendidikan ke Belanda. Mereka
ini studi di perguruan tinggi (hoogeschool). Yang pertama adalah Raden Kartono
(abaang RA Kartini) pada tahun 1896, lalu yang kedua Soetan Casajangan pada
tahun 1903. Ketika jumlah mahasiswa di Belanda sekitar 20 orang, Soetan
Casajangan pada tahun 1908 menggagas didirikan organisasi mahasiswa dengan nama
Indische Vereeniging.
Lantas
bagaimana sejarah asal usul organisasi kemahasiswaan di Indonesia (baca: sejak
Hindia Belanda) dan bagaimana peran mahasiswa asal Padang Sidempoean? Seperti disebut di atas, hampir semuanya berasal
dari Padang Sidempuan, sejak Soetan Casajangan. Lalu organisasi mahasiswa apa
saja dan didirikan dimana? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Organisasi Mahasiswa Indonesia Bermula di Belanda
Pada
tahun 1950 RIS dibubarkan dan kembali ke NKRI. Perguruan tinggi yang ada mulai
dikonsolidasikan, Universiteit van Indonesia diakuisisi Pemerintah Republik
Indonesia dengan menergerikan Universiteit van Indonesia (menjadi Universitas
Indonesia) yang disandingkan dengan universitas negeri yang sudah dibentuk
setahun sebelumnya di Jogjakarta (Universitas Gadjah Mada).
Universitas Indonesia lekas menjadi besar,
kampung-kampusnya tidak hanya di Djakarta (kedokteran, hukum, sastra dan
filsafat dan sosial kemasyarakatan plus ekonomi) tetapi juga di Bogor
(kedokteran hewan dan pertanian), di Bandoeng (teknik dan IPA), di Soerabaja
(kedokteran gigi) dan di Makassar (ekonomi). Namun kemudian ekonomi Makssar
diintegrasikan dengan ekonomi di Djakarta. Universitas Indonesia makin solid,
kurikulum dikembangkan, tenaga dosen dari luar negeri direkrut. Perkuliahan (di
bawah payung Universitas Indonesia) mulai kondusif.
Pada
tahun 1952 organisasi mahasiswa di tingkat universitas di Djakarta dibentuk
dengan nama Dewan Mahasiswa (studentenraad) Universitas Indonesia Djakarta (De
nieuwsgier, 22-12-1952). Juga dilakukan
di Universitas Indonesia di Bandoeng. Inilah awal pendirian Dewan Mahasiswa di universitas
pasca pengakuaan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949). Presiden terpilih Djakarta
adalah Widjojo [Nitisastri] dari Fakultas Ekonomi, sementara di Bandoeng
presiden terpilih adalah Januar Hakim Harahap..
Anggota terdiri dari Soebardi (Fakultas Sastra
dan Filsafat), Soeharto (Fakultas Kedokteran) dan Ismed Siregar (Fakultas
Hukum). Dewan Mahasiswa pimpinan Widjojo Nitisastro ini hanya mencakup empat
fakultas Universitas Indonesia di Djakarta. Di Bandoeng, presiden terpilih
Januar Hakim Harahap berasal dari Fakultas Tekni (Sipil). Periode kepengurusan
Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia berlangsung selama dua tahun. Januar
Hakim Harahap, kelahiran Padang Sidempuan, anak Gubernur Sumatra Utara dan
mantan Wakil Perdana Menteri RI di Jogjakarta, Abdul Hakim Harahap (1951-1952), Dewan Mahasiswa
dihapuskan (kini namanya BEM).
Organisasi
mahasiswa di universitas sebelum pengakuan kedaulatan Indonesia Belanda sudah
pernah dibentuk pada tahun 1947. Organisasi tersebut dibentuk di Universiteit
van Indonesia (dengan cabang di Djakarta, Bandoeng, Bogor dan Soerabaja).
Sebagai penggagas adalah G Harahap dari jurusan jurnalistik fakulteit sosial
kemasyarakatan dan I Nasoetion dari fakultas sastra dan filsafat. Nama
organisasinya adalah Persatoean Mahasiswa Universiteit van Indonesia (PMUI)
yang dibentuk pada tanggal 20 November 1947. Sebagai ketua (presidium) adalah
nona Ida Nasoetion.
Ida Nasoetion asal Padang Sidempuan kelahiran
Sibolga. Pada saat menjabat Ketua PMUI, Ida Nasoetion adalah seorang penulis,
kritikus sastra. Ida Nasoetion seorang esais dan Chairil Anwar seorang penyair sama-sama
bekerja sebagai redaktur di majalah sastra Detik. Tulisan-tulisan mereka
cenderung bersifat perjuangan.
Upaya
Ida Nasution dan G Harahap mempersatukan mahasiswa (di era perang) adalah
respon dari upaya mempersatukan mahasiswa yang beragama Islam dalam wadah
organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dimotori oleh Lafran Panen di
Djogjakarta (ibukota RI). Presiden HMI pertama adalah Lafran Pane (adik dari
sastrawan terkenal Sanusi Pane dan Armijn Pane).
HMI berdiri tanggal 6 Februari 1947, sementara
PMUI didirikan tanggal 20 November 1947. Ini seakan berulang ketika Sorip Tagor
Harahap mendirikan organisasi mahasiswa asal Sumatra di Belanda dengan nama Sumatra
Sepakat pada tanggal 1 Januari 1917, lalu direspon mahasiswa-mahasiswa asal
Sumatra di Batavia dengan mendirikan Sumatranen Bond pada tanggal 9 Desember
1917 dimana ketua T Mansjur dan wakil ketua Abdoel Moenir Nasution. Sorip Tagor
adalah ompung (kakek) dari artis Risty/Inez Tagor.
Organisasi
mahasiswa Indonesia pertama kali didirikan pada era kolonial Belanda. Tidak di
Djakarta (baca Batavia), tetapi di Leiden (Belanda). Organisasi mahasiswa
pribumi di Belanda itu digagas oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan
yang dibentuk pada tanggal 25 Oktober 1908 dengan nama Indische Vereeniging
(Perhimpoenan Hindia). Soetan Casajangan menjadi presiden pertama dengan
sekretaris Raden Soemitro.
Soetan Casajangan, kelahiran Padang
Sidempoean, alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempuan pada tahun
1887. Setelah beberapa tahun menjadi
guru di Padang Sidempoean pada tahun 1903 Soetan Casajangan berangkat ke
Belanda untuk menjajaki kuliah. Pada tahun 1905 Soetan Casajangan kembali ke
Belanda untuk melanjutkan studi di universitas untuk mendapatkan gelar sarjana
pendidikan. Soetan Casajangan adalah mahasiswa pribumi kedua di Belanda (yang
pertama adalah Raden Kartono, abang dari RA Kartini).
Organisasi
mahasiwa Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1921 diubah namanya menjadi
Indonesia Vereeniging oleh Dr. Soetomo dkk. Lalu pada tahun 1924 organisasi
Indische Vereeniging ini diubah lagi namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia
(PI) oleh Mohamad Hatta dkk.
Perubahan nama Indische Vereeniging ini
menjadi Perhimpoenan Indonesia, beberapa tahun kemudian pada tahun 1928 di
Batavia didirikan organisasi mahasiswa pribumi dengan nama Perhimpoenan Peladjar-Peladjar
Indonesia di Rechthoogeschool. Sebagai ketua adalah Soegondo, sekretaris
Mohamad Jamin dan bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap. Tiga tokoh inilah yang
menjadi panitia inti Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 dengan komposisi yang sama:
Soegondo sebagai ketua, Mohamad Jamin sebagai sekretaris dan Amir Sjarifoeddin
Harahap sebagai bendahara.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Organisasi Mahasiswa Indionesia:
Dari Dewan Mahasiswa hingga BEM
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





