*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Australia dalam blog ini Klik Disini
Moda
transportasi air (laut dan sungai) tidak cukup lagi ketika koloni-koloni Eropa
di berbagai tempat semakin meluas ke pedalaman. Angkutan darat dalam tahap awal
seperti kuda, kereta kuda, pedati tidak memadai lagi ketika volume perdagangan (dari
dan ke pedalaman-pelabuhan) semakin besar. Sehubungan dengan penemuan teknologi
kereta api di Eropa, dengan cepat pula teknologi angkutan massal ini
diperbincangkan untuk diterapkan di wilayah-wilayah kooni termasuk di Jawa dan
Australia.

berada di tahap perkembangan maju industri. Tentu saja introduksi angkutan
massal kereta api mudah diterapkan karena volume perdagangan sudah tinggi dan
arus orang sudah sangat intens dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini
tentulah berbeda di tanah-tanah koloni, para pengusaha (planter) masih memulai
ekspansi dan pemerintah masih sangat sibuk merancang dan perluasan pemerintahan
dengan pera pemimpin lokal. Satu yang pasti pada fase ini arus volume
perdagangan dari pedalaman ke pelabuhan baru memulai pertumbuhan. Permnintaan
pembangunan jalur kereta api pada fase ini tentu saja tidak mudah, setinggi apa
pun minat masyarakat, sebab terlaksananya pembangunan jaringan kereta api
sangat ditentukan ekspektasi untung rugi dalam rencana pengoperasiannya.
Pemerintah tentu saja sangat hati-hati menambah pengeluaran, demikian juga
pihak swasta (investor) lebih hati-hati lagi, karena investasi jalur kereta api
sangat besar. Intriduksi dan pembangunan kereta api di wilayah koloni bersifat
dilematis.
Lantas
bagaimana sejarah awal pembangunan (jaringan) kereta api di Australia? Tentu saja sudah ada yang menulisnya. Namun sejauh
data baru ditemukan narasi sejarah awal kereta api di Australia tetap perlu
diperbarui. Lalu apa pentingnya sejarah pembangunan kereta api di Australia? Satu hal yang sangat jelas, trans Australia
begitu panjangnya (relatif terhadap trans Jawa di Hindia Belanda). Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Introduksi Kereta Api di
Australia: New South Wales
Pada
tahun 1846 muncul gagasan pembangunan jalur kereta api di Jawa dengan
memberikan konsesi kepada swasta. Studi kelayakan segera dilakukan oleh suatu
konsorsium di Belanda. Hasil studi kelayakan itu adalah pembanguna jalur kereta
api dari Batavia ke Buitenzorg via Tjibinong.
Namun hasil studi kelayakan itu tidak terdengar apa kelanjutannya. Lalu
pada tahun 1850an awal muncul gagasan pembangunan jalur kereta api di negara
bagian Viktoria dan negara bagian New South Wales yang akan dioperasikan oleh
swasta.
Dalam perkembangannya, rencana swasta di
Australia tersebut (antara Granville dan Sydney) tersendat karena soal
pembiayaan (namun akhirnya diambil alih pemerintah). Hal ini juga yang
sebelumnya menjadi faktor menghilangnya rencana pembangunan kereta api di
Batavia. Pada tahun 1860an kembali konsesi kereta api ditawarkan di Jawa. Studi
kelayakan yang baru adalah rute Batavia- Buitenzorg via Bekasi dan Tjibinong.
Lagi-lagi terkendala di Batavia, tetapi pada tahun 1865 pembangunan jalur
kereta api antara Semarang dan Djogjakarta via Soeracarta dapat diselesaikan
antara Semarang dan Tanggoeng sepanjang 27 Km dan mulai beroperasi pada tanggal
10 Agustus 1867. Inilah ruas jelur kereta api pertama di Indonesia (baca:
Hindia Belanda).
Pembangunan
jalur kereta api di Australia selain di Victoria (Melbourne) dan New South
Wales (Sydney), pembangunan jalur kereta api dirintis di South Australia
(Adelaide), Quensland (Brisbane), Tasmania dan West Australia (Perth) pada
tahun 1879 antara Geraldton dan Northampton. Namun pengoperasian jalur kereta
api antara negara bagian tidak seragam dalam hal ukuran lebar rel. Hal itu juga
terjadi di Jawa karena perbedaan pilihan perusahaan pengelola, kebutuhan dan
faktor geografi yang berbeda-beda.
Sementara itu di Jawa, setelah pengoperasian
ruas Semarang dan Tanggoeng, lalu pengoeprasian ruas jalur kereta api
Batavia-Meester Cornelis dimulai pada tahun 1869. Lalu rencana jalur
Semarang-Djogjakarta dari Tanggoeng tidak diteruskan tetapi berbelok dari
Tanggoeng ke Ambarawa pada tahun 1870. Pada tahun ini ruas Meester Cornelis dan
Buitenzorg mulai mengemuka dan akhirnya setelah pembangunan cukup lama maka
ruas Meester Cornelis-Buitenzorg mulai dioperasikan pada bulan Januari 1873.
Lalu kemudian disusul pembangunan ruas Tanggoeng ke Soeracarta dan akhirnya ke
Djogjakarta. Demikian seterusnya pembangunan ruas-ruas baru di wilayah yang
berbeda di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1882 sudah terhubung ruas antara
Buitenzorg dan Soekaboemi dan kemudian pada tahun 1885 antara Soekaboemi dan
Bandoeng via Tjiandjoer.
Pada
tahun 1880an ruas jalur di New South Wales, Victoria, South Australia dan
Queensland terhubunga meski dengan ukuran rel yang berbeda. Hanya ruas di
Voctoria dan South Australia yang berukuran sama. Dalam hal ini, ruas di West
Australia berjalan sendiri (belum terhubung) dengan ruas di negara bagian lain
karena jarak yang jauh yang harus melalui gurun.
Ruas jalur kereta api New South Wales dan Victoria
bertemu di Albury pada tahun 1883. Sementara ruas jalur kereta api Victoria dan
South Australia bertemu di Serviceton pada tahun 1887. Pada tahun 1888 jalur
kereta api New South Wales dan Queensland bertemu di Wallangara.
Dalam
perkembangannya, ruas jalur kereta api di wilayah utara Australia dibuka pada
tahun 1889 dengan ruas pertama dari Darwin ke Pine Creek. Dengan demikian,
semua negara bagian di Australia sudah memiliki ruas jalur kereta api, namun
ruas di nagara bagian West Austra dan Northern Territory masih terpisah
sendiri-sendiri.
Sehubungan dengan selesainya pembangunan kota
baru di Canberra yang dijadikan sebagai ibu kota federasi Australia, lalu pada tahun
1914 ruas jalur kereta api di New South Wales (Queanbeyan) diperluas ke
Canberra sepanjang delapan kilometer. Pada tahun 1914 ini semua ruas jalur
kereta api di Jawa dapat dikatakan sudah terhubung dari Anjer hingga
Pasoeroean. Pada tahun 1901 kereta trem (dalam kota) sudah beroperasi.
Pebangunan jalur kereta api listrik terbilang lebih awal pada ruas
Batavia-Buitenzorg dibandingkan dengan di Australia.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Trans Australia: Sydney-Perth
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





